Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label Menyusui. Show all posts
Showing posts with label Menyusui. Show all posts

Pengetahuan Seputar ASI & Perawatan Payudara

Written By Unknown on Monday, December 31, 2012 | 10:03 PM







BUNDA pasti ingin memberikan yang terbaik bagi sang buah hati. Pemberian ASI eksklusif sekarang menjadi salah satu impian bagi sebagian besar ibu. Apa yang harus dilakukan sebelum dan sesudah melahirkan agar ASI bisa keluar dengan lancar?

Sebelum persalinan, dr Wiryani Pambudi SpA IBCLC dosen Ilmu Kesehatan Anak di Universitas Tarumanegara dan Konsultan Laktasi RS Medistra & BJ Medical Center, Central Park, Jakarta menekankan perlunya menjaga kebersihan payudara. Memanipulasi payudara dengan cara memijat dan menarik puting, jangan lagi dilakukan, karena bisa memicu kontraksi pada rahim.

Setelah persalinan, dr Wiryani meyebutkan bahwa secara otomatis, kelenjar-kelenjar payudara akan menjadi aktif memproduksi ASI.  Agar ASI lancar, disarankan para Bunda menyusui bayi baru lahir sesering mungkin (minimal setiap ±2 jam), dan memerah untuk mengosongkan payudara. “Tindakan ini akan merangsang hormon prolaktin untuk menghasilkan ASI lebih banyak, sekaligus mencegah payudara bengkak dan mengurangi risiko mastitis,” ujanya.

Dokter yang kini tengah mengambil S3 di Uiversitas Indonesia ini tidak menganjurkan ibu menyusui mengurangi porsi makan seperti sebelum hamil. Sebab, pada prinsipnya kebutuhan nutrisi ibu menyusui lebih tinggi dibanding kebutuhan ibu yang tidak hamil. Energi, karbihidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral hendaknya didapatkan dalam komposisi yang seimbang. 

Ibu menyusui, katanya, juga tidak perlu khawatir akan pertambahan berat badan. “Bila pemberian ASI eksklusif dilakukan secara benar disertai aktivitas tubuh dan oleh raga teratur, otomatis berat badan ibu akan berangsur turun selama 6 bulan ASI eksklusif.” 

 Foto: scienceline.org

ASI dan Sifat Keibuan

Written By Unknown on Friday, November 9, 2012 | 11:34 PM

Sifat keibuan seseorang sangat dipengaruhi oleh aktivitas di dalam otak sang ibu. Dan, aktivitas di otak itu ternyata dipengaruhi pula oleh pemberian ASI kepada bayi.

TAK ada yang memungkiri bahwa setiap ibu pasti punya rasa peduli kepada bayi mereka. Seorang ibu mempunyai sifat mengasihi tanpa batas dan tanpa harap balas terhadap anaknya. Apapun akan dilakukan ibu untuk anak mereka.  Hanya saja tingkat rasa peduli itu berbeda-beda. Ada saja ibu yang tak acuh kepada anaknya yang menangis. Ada pula yang sangat responsif untuk segera bertindak bila sang anak membutuhkan kehadirannya.

Sebuah penelitian membuktikan hal itu. Yakni, menunjukkan bahwa ibu yang memberikan ASI ekslusif kepada bayi mereka di bulan-bulan awal setelah melahirkan terbukti lebih memiliki sifat keibuan dibandingkan mereka yang memberikan susu formula.

Sebuah penelitian oleh The Journal of Child Psychology and Psychiatry menemukan bahwa ibu-ibu yang memberikan ASI ekslusif kepada bayi mereka di empat bulan pertama setelah melahirkan ternyata lebih memiliki ikatan emosional ketimbang ibu yang memberikan susu formula.

Survei itu menunjukkan bahwa ibu-ibu yang menyusui langsung bayi mereka memiliki respons di otak yang lebih besar ketika menghadapi bayi mereka yang menangis. Mereka lebih peduli dan memiliki empati lebih besar ketimbang ibu yang memberikan susu formula.

Menyikapi bayi yang menangis memang bisa menunjukkan tingkat kepedulian seorang ibu terhadap bayi mereka. Ada ibu yang tenang-tenang saja ketika melihat bayinya menangis, adapula yang terlalu berlebihan menyikapinya.

Dari penelitian ini terlihat bahwa ibu yang memberikan ASI kepada anaknya, jauh lebih peduli terhadap tangisan bayi. Ini merupakan penelitian pertama yang mengaji mekanisme saraf sebagai akibat dari pemberian ASI. Sekaligus menghubungkan aktivitas di otak dengan perilaku keibuan.

Penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI dan segala aspek lainnya terkait pemberian ASI seperti tingginya hormon (oxytocin, prolactin), tekanan mental, dan budaya ternyata sangat mempengaruhi aktivitas otak para ibu dan perilaku keibuan selama empat bulan pertama setelah melahirkan.

Selama tiga atau empat bulan pertama setelah melahirkan, beberapa bagian otak terus aktif dan itu berhubungan dengan sifat keibuan serta sensitivitas ibu.

“Karena itu sangat penting untuk mendorong ibu dan membantu mereka mengatasi tantangan terkait pemberian ASI dan perawat bayi selama masa empat bulan pertama,” kata Dr. Pilyoung Kim, pemimpin penelitian itu.

Jangan Ragukan Dahsyatnya ASI

Written By Unknown on Sunday, August 5, 2012 | 2:44 AM

Masih meragukan dahsyatnya ASI Bunda? Jangan pernah! Banyak penelitian ilmiah yang sudah membuktikan betapa besar manfaat ASI untuk sang buah hati dan Bunda sendiri. 

TAHUKAH Bunda, pemberian ASI bisa memicu dan meningkatkan perkembangan IQ seorang anak? Penelitian di Oxford University Institute for Social and Economic Research terhadap 10 ribu anak, menunjukkan anak yang diberi ASI selama 4 minggu rata-rata memiliki IQ 3 sampai 4 poin lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak pernah diberi ASI.

Hanya empat minggu, ASI bisa menyebabkan banyak perubahan. Sebuah penelitian lain menyebutkan, anak yang diberi ASI, rata-rata lebih cepat bisa membaca dan lebih pintar di pelajaran matematika. Masih penasaran dengan manfaat ASI? 

Memperingati Pekan ASI sedunia awal Agustus ini, dr Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC dan konsultan laktasi yang berpraktek di RS Medistra & BJ Medical Center, Central Park, Jakarta menambahkan sederet manfaat ASI berdasarkan berbagai penelitian yang sudah dilakukan para ahli di dunia. 

Manfaat ASI dan Menyusui 
Air susu ibu tidak hanya bermanfaat bagi bayi, melainkan juga bagi ibu. Apa saja manfaatnya?  
Manfaat bagi ibu:
  • Proteksi kesehatan ibu. Oksitosin yang dilepaskan sewaktu menyusui menolong uterus untuk kembali ke ukuran semula dan mengurangi perdarahan pasca-persalinan.
  • Menyusui mengurangi risiko kanker payudara dan kanker ovarium pada ibu. Analisis data dari 47 studi epidemiologi di 30 negara menunjukkan bahwa risiko relatif kanker payudara menurun sebanyak 4,3% untuk setiap tahun menyusui.
  • Menjarangkan kehamilan. Selama enam bulan pertama setelah melahirkan, jika seorang wanita belum mendapat kembali haidnya dan menyusui secara eksklusif, maka proteksi terhadap terjadinya kehamilan adalah 98%. Semakin lama menyusui, maka semakin lama periode amenore dan semakin lama pula dapat menunda kehamilan.
Manfaat bagi bayi:
  • Nutrisi optimal.
    ASI mengandung nutrien terbaik yang mudah dicerna dan diserap secara efisien. Bayi yang mendapat ASI tidak perlu lagi diberikan air putih maupun cairan lain, karena sebagian besar komponen penyusun ASI adalah air (70%) dan kandungan air dalam ASI cukup untuk memenuhi kebutuhan cairan bayi.
  • Meningkatkan imunitas
    Sistem imun bayi belum berkembang sempurna pada tahun pertama kehidupan, sehingga bayi bergantung pada ASI untuk melawan infeksi.
  • Menurunkan risiko diare. Bayi yang mendapat ASI non-eksklusif lebih sering mengalami diare dibandingkan bayi yang mendapat ASI eksklusif. Namun, risiko ini lebih kecil dibandingkan bayi yang tidak mendapat ASI.
    Studi di Skotlandia menunjukkan bahwa pada usia 0-13 minggu, bayi yang mendapat ASI lebih jarang mengalami diare dibandingkan mereka yang mendapat susu formula sejak lahir (IK 95% untuk reduksi insidens 6,6%-16,8%).
    Studi di Amerika Serikat terhadap 1743 pasangan ibu-anak menunjukkan bayi yang sama sekali tidak mendapat ASI lebih sering mengalami diare dibandingkan kelompok yang mendapat ASI eksklusif (OR 1,8). Efek profektif ASI sebanding dengan jumlah ASI yang didapat.
  • Mengurangi risiko infeksi respiratorik.
    Studi di Skotlandia menunjukkan bahwa bayi yang mendapat ASI lebih jarang mengalami infeksi saluran napas. Pada usia 0-13 minggu, hanya 23% bayi ASI yang mengalami infeksi saluran napas dibandingkan dengan 39% bayi yang mendapat susu formula.
    Studi di Brazil menunjukkan bahwa risiko dirawat karena pneumonia lebih tinggi 17 kali lipat pada bayi yang tidak mendapat ASI.
    Survei rumah tangga nasional di Amerika yang diadakan tahun 1988-1994 menunjukkan bahwa anak yang mendapat ASI eksklusif selama 4 sampai kurang dari 6 bulan memiliki risiko lebih tinggi mengalami pneumonia) dibandingkan dengan anak yang mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan.
  • Mengurangi risiko otitis media (peradangan telinga tengah)
    Studi di Swedia melaporkan bahwa bayi yang mendapat ASI, lebih jarang menderita otitis media dibandingkan bayi yang diberi susu formula. Kejadian otitis media pada bayi berusia 1-3 bulan yang mendapat ASI hanya 1%, dibandingkan dengan 6% pada bayi yang tidak mendapat ASI.
    Studi terhadap 1.743 bayi di Amerika menunjukkan bahwa ASI memiliki efek proteksi terhadap otitis media.
  • Mengurangi risiko penyakit kronik:
    Metaanalisis terhadap 17 studi kasus kontrol dan 2 studi ekologi menunjukkan bahwa kelompok yang tidak pernah mendapat ASI lebih sering menderita insulin dependent diabetes mellitus (IDDM). Subjek yang mendapat ASI selama 3 bulan lebih rendah risikonya.
  • Mengurangi angka kematian bayi:
    Analisis terhadap tiga studi mengenai kematian bayi di Ghana, Pakistan, dan Filipina menunjukkan bahwa ASI merupakan faktor protektif terhadap kematian akibat diare dan kematian akibat infeksi respiratorik akut selama enam bulan pertama kehidupan. Daya proteksi ASI menurun seiring dengan usia.
  • Mengurangi risiko alergi.
    Studi di Swedia yang mengikutsertakan 4.089 bayi yang diikuti sejak lahir sampai usia 2 tahun menunjukkan bahwa anak yang mendapat ASI eksklusif selama ≥4 bulan lebih jarang mengalami asma.
    Mengurangi risiko obesitas.
    Studi di Jerman menunjukkan bahwa prevalens obesitas pada anak usia 5-6 tahun yang tidak pernah mendapat ASI adalah 5 kali lipat dibandingkan mereka yang mendapat ASI selama lebih dari 1 tahun.
    Studi di Amerika terhadap lebih dari 15.000 anak menunjukkan bahwa prevalens gizi lebih (overweight) pada anak usia 9-14 tahun yang mendapat ASI selama sedikitnya 7 bulan lebih rendah dibandingkan kelompok yang mendapat ASI selama ≤3 bulan.
  • Meningkatkan kecerdasan dan kemampuan psikososial dan perkembangan
    ASI menguatkan bonding antara ibu dan bayi. Kontak erat setelah melahirkan akan menciptakan hubungan saling mencintai antara ibu dan bayi. Bayi lebih jarang menangis dan ibu dapat memahami serta merespons kebutuhan bayinya lebih baik.
    Studi PROBIT di Belarus yang melibatkan 17.046 bayi melaporkan bahwa ASI eksklusif meningkatkan perkembangan kognitif anak.
    Studi di Kopenhagen menunjukkan bahwa pemberian ASI berkorelasi secara bermakna terhadap skor IQ.
ASI Eksklusif
Dengan begitu banyak manfaat, jangan lagi Bunda ragu untuk mengupayakan pemberian ASI eksklusif. Dokter Wiyarni yang juga dosen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta dan mahasiswi program S3 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, menyarankan agar para ibu memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Itu berarti selama 6 bulan penuh sang buah hati hanya menerima ASI tanpa tambahan air putih mau pun jus, namun pemberian vitamin, mineral, dan obat-obatan diperbolehkan.

Rentang waktu pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan telah direkomendasikan WHO setelah memiliki cukup bukti bahwa kebutuhan bayi terhadap cairan, energi, protein kalsium, dsb dapat dipenuhi dari ASI eksklusif selama kurun tersebut. Nah Bunda, jangan ragukan lagi dahsyatnya ASI. Ayo kita sebarkan informasi ini ke para calon ibu di sekitar Anda!



Tips Menyimpan ASI
      IBU bekerja bukan berarti menghentikan pemberian ASI eksklusif setelah masa cuti kerja tiga bulan selesai. ASI tetap bisa diberikan dengan cara memperbanyak stok ASI perah (ASP). Bagaimana cara menyimpan ASI perah yang baik dan benar? Dokter Wiyarni memberikan prinsip dan aturan dasar penyimpanan ASI.. Dia menegaskanASI perah sebaiknya disimpan dalam botol kaca yang sudah dicuci bersih dan dibilas air panas. Gunakan botol-botol kecil sehingga ASIP dapat digunakan sesuai kebutuhan.

         Waktu Ketahanan ASIP:

-          Disimpan di suhu ruang (19-25°C), bisa bertahan 4-6 jam.

-          Di termos berisi es, bisa bertahan sekitar 12-24 jam.

-          Disimpan di rak lemari es, bisa bertahan 3-8 hari.

-          Disimpan di freezer lemari es 1 pintu, daya tahan ASI mencapai 2 minggu.

-          Disimpan di freezer dengan  pintu terpisah, daya tahan ASI mencapai 3-4 bulan.

-          Disimpan di freezer khusus (-18°C), daya tahan ASI mencapai 6-12 bulan

   Jangan memanaskan ASIP langsung di atas api. Gunakan air hangat yang mengalir atau rendam dalam mangkuk air hangat untuk mencairkan ASI sebelum diberikan kepada bayi.
    ASIP yang telah dicairkan dan dihangatkan siap disajikan untuk diminum sekaligus, sisa yang tidak dihabiskan tidak bisa disimpan kembali di dalam lemari es atau freezer.


Tips agar ASI Lancar

         Mempersiapkan diri, pasangan dan keluarga untuk memberikan ASI eksklusif, banyak mencari referensi serta mengikuti kelas persiapan menyusui.

         Melakukan kontak kulit dan inisiasi menyusui dini pada saat bayi baru lahir selama sekurangnya 1 jam.

         Melakukan teknik menyusui yang benar (posisi peletakan tubuh bayi dan pelekatan mulut bayi pada payudara).

         Meminta rawat gabung ibu dan bayi, diusahakan tidur seranjang.

         Hanya memberikan ASI saja sejak bayi lahir.

         Memberikan ASI  sesering dan semau bayi.

         Tidak memberikan dot/ kempeng.

         Mengetahui kontak konselor laktasi yang dapat dihubungi sewaktu-waktu apabila membutuhkan saran dan bantuan praktis menyusui.

Cerdaskan Bayi Dengan ASI

Written By Unknown on Tuesday, August 9, 2011 | 9:57 AM

Sejak dalam kandungan, bayi sudah memiliki perasaan dan kesadaran. Karena itu penting membuat ibu merasa bahagia. Penting juga ayah dan bunda memberi rangsangan positif, baik lewat usapan, obrolan atau pun musik.

DI usia kandungan 28 pekan, Isna menyadari kalau bayinya sudah bisa mendengar suara sang ayah. Setiap suaminya pulang kerja dan mengucapkan salam, bayi dalam perut Isna bergerak.

Apa yang disadari dan dilakukan Isna sangat baik untuk merangsang sel otak. Dia menyadari ada interaksi antara bayi yang dikandungnya dan dunia luar di sekitarnya. Semenjak dalam kandungan bayi sudah memiliki perasaan, kesadaran, dan daya ingat. 


Dr Maman Hilman, SpOg dari Rumah Sakit Hasanah Graha Afiah, Depok, Jawa Barat, mengatakan suara sentuhan dan musik bisa memberikan dampak psikologis kepada anak. “Secara psikologis memang memberikan pengaruh ke sang bayii, terutama ketika sang ibu menyetel musik untuk bayinya,” ujarnya. 

Jadi, jangan menganggap apa yang dirasakan seorang ibu, tidak dirasakan oleh bayinya. Jika ibu hamil stres, hal itu akan berdampak tidak baik pada bayinya. Kondisi semacam memberikan rangsangan negatif terhadap bayi. Karena itu, para ahli menyarankan agar ibu hamil berusaha merasa bahagia dan senang. Rasa bahagia dan senang sangat penting guna menciptakan rangsangan positif bagi sang bayi. Rangsangan positif itu bisa disalurkan lewat suara, sentuhan, dan nyanyian. Di depan moncong perut, seorang ayah juga jangan malu untuk berbicara. Sang ibu juga bisa mendongeng sambil mengelus-elus perutnya. 

Menyetel musik di dekat perut ibu secara teratur dan terus menerus bisa memacu kecerdasan otak anak. Jenis-jenis musik yang ‘merangsang bayi’ banyak dijual di toko-toko kaset tertentu. Musik yang indah akan membuat daya konsentrasi anak, daya ingat, dan pengenalan meningkat optimal. Musik klasik, bisa menjadi salah satu pilihan. 

Itulah mengapa sejumlah lembaga pengembangan atau pelatihan otak dalam sesi pelatihan mereka menyetelkan suatu musik untuk diperdengarkan kepada anak didik mereka. Tujuannya ialah untuk membangkitkan kemampuan maksimal otak. Pasalnya, musik bekerja pada gelombang-gelombang tertentu yang bermanfaat untuk merangsang bangkitnya kemampuan maksimal otak.

 Tidak kelirulah jika para orang tua dan orang bijak menasihati agar kita berkata-kata dengan lembut, bukan dengan suara kasar. Karena, kata-kata itu diungkapkan melalui bunyi atau pengucapan suara lewat mulut. Dan, bunyi-bunyian, seperti halnya musik, bekerja pada gelombang-gelombang tertentu yang bisa merangsang perkembangan otak. 

Selain itu, Ibu hamil harus mendapatkan nutrisi yang baik biar bayi juga mendapatkan nutrisi yang baik pula. Untuk membentuk sel otak bayi, ibu hamil bisa mengonsumsi makanan yang mengandung kolin dan DHA. Sumber kolin ada di susu, kacangkacangan, telur, roti gandum, dan daging sapi. Sedangkan DHA terkandung di kuning telur, ikan, minyak kanola, dan daging. Dr Maman menganjurkan sang ibu meminum obat dan susu yang disarankan oleh dokter, karena hal itu bagus untuk otak bayi. “Jika ibu sehat, bayinya pun sehat.”

Si Kecil Tumbuh Sempurna Dengan MPASI

Written By Unknown on Friday, October 15, 2010 | 7:17 PM

Dengan kasih dan kuasaNya, Tuhan menganugerahkan kaum ibu organ menyusu yang produknya tiada berbanding apalagi tergantikan dengan susu formula buatan perusahaan mana pun di dunia. 

ASI mengandung gizi komplit yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang, termasuk untukpembentukan sistem kekebalan tubuh, bayi. Itulah mengapa para pakar, bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif kepada bayi hingga usia enam bulan. ASI eksklusif sudah cukup memasok kebutuhan bayi 0-6 bulan. 


Lalu, setelah melewati usia enam bulan, cukupkah bayi hanya mengonsumsi ASI? Setelah berusia enam bulan, bayi memerlukan makanan tambahan berupa MPASI. Pemberian MPASI menjadi proses transisi dari asupan menu susu (ASI) menuju makanan semi padat. Sesuai namanya, MPASI bukan pengganti ASI melainkan hanya sebagai pendamping.

MPASI perlu diberikan karena seiring bertambahnya umur bayi, naik pula kebutuhan gizinya. Di usia enam bulan ke atas, beberapa elemen nutrisi, seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral yang terkandung dalam ASI eksklusif sudah tidak mencukupi lagi bagi sang bayi. Pemberian MPASI pun penting guna menyempurnakan pertumbuhan fisik dan kecerdasan.


Namun ingat, pemberian MPASI harus dilakukan secara bertahap, baik dalam bentuk tekstur, kualitas, maupun kuantitas. Harus disesuaikan dengan kemampuan pencernaan anak. Jika berlebihan, akan membuat anak menderita. Hati-hati, salah memberi pengenalan MPASI menimbulkan gangguan sembelit atau kembung.


Jika bayi menolak (misalnya de¬ngan memuntahkan makanan), jangan dipaksa. Coba dulu cari alternatif makanan pendamping lain. Kekentalan makanan juga harus disesuaikan dengan kesiapan si bayi. Ada bagusnya, untuk masa-masa awal, bayi diberi makanan semi padat. Makanan padat diberikan setelah gigi tumbuh.


Menu Laut
Anna Y Mansyur dokter anak dari RS Bella, Bekasi, Jawa Barat menerangkan, jika bayi tidak mendapatkan ASI eksklusif, sejak empat bulan ia sudah bisa diberikan MPASI. Namun jika menerima ASI eksklusif, MPASI baru bisa dikenalkan saat berusia enam bulan. “Untuk anak umur 6 - 9 bulan, MPASI yang diberikan baiknya buah dan sayuran (yang bisa dibuat dalam bentuk jus). Buah apa saja bagus, asal ja¬ngan durian. Lalu ditambahkan biskuit dan berikan menu tersebut sehari dua kali,” ujar bu dokter.


Untuk pelengkap, berikan pula nasi tim yang disaring sekali sehari. Di dalamnya boleh diisi wortel, kentang, atau tomat. Anna menyarankan, kalau mau ditambah ati, baiknya diungkep dulu. Nanti setelah si kecil mau makan, atinya baru digoreng. Hal ini untuk menghindari anak menolak makan, karena nasi tim yang langsung dicampur ati, biasanya amis. Di usia ini, tekstur makanan bayi sebaiknya cair dan lembut, misalnya bubur susu atau bubur sayuran yang dihaluskan. “Menginjak usia sembilan bulan hingga satu tahun, bayi sudah mulai dialihkan ke makanan padat yang tetap bertekstur lunak, seperti nasi tim yang sudah tak disaring,” tambah Anna.


Setelah itu, pada usia 1–2 tahun, bayi sudah bisa diperkenalkan pada makanan orang dewasa. Namun tetap hindari makanan yang dapat mengganggu pencernaan anak, seperti makanan pedas, asam, atau berlemak. Kalau belum mau makan nasi, ganti dengan pilihan menu karbohidrat lain, seperti jagung atau kentang.
MPASI sendiri bermacam-macam bentuknya. Tak melulu sayur dan buah. Ahli gizi dari Universitas Illinois, Amerika Serikat, Susan Brewer, mereko¬mendasikan agar bayi sudah mulai mendapat asupan ikan.
Alasannya, karena anak kecil memerlukan asam lemak omega 3 yang baik untuk pengembangan otak, saraf, dan mata. “Ketika bayi beralih dari susu ke makanan padat, kebanyakan dari mereka tidak mendapat omega 3 yang cukup,” ujarnya.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Belajar di Mall - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger