Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label Pendapat Ahli. Show all posts
Showing posts with label Pendapat Ahli. Show all posts

Perlu Mengajarkan Anak Disiplin Sejak Dini

Written By Unknown on Tuesday, January 22, 2013 | 9:07 PM

SERING kali orangtua mengeluhkan rendahnya disiplin anak-anak. Ketika tiba waktu mandi, mengerjakan PR, bangun tidur, dan sebagainya, mereka harus terus-menerus mengingatkan, bahkan terkadang harus berteriak dan berdebat karena sering mendengar jawaban ‘nanti’ dan ‘sebentar lagi.’

Beberapa psikolog menyebutkan perilaku tersebut berkaitan dengan pengajaran disiplin sejak usia dini. Sebagian lagi mengatakan, perilaku seperti itu menjadi tanda orangtua gagal menegakkan otoritas karena terbuai dengan keinginan untuk menjadi sahabat bagi anak-anak mereka.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan disiplin, seberapa penting penegakkan disiplin pada anak, dan bagaimana cara serta pada usia berapa bisa dimulai, Sang Buah Hati melakukan wawancara dengan psikolog dari Proxima Consultant Ayu Windiyaingrum M Psi. Berikut kutipan wawancaranya.

Foto: she.sulekha.com

Seberapa penting sebenarnya mendisiplinkan anak sejak usia dini?
Pada dasarnya disiplin adalah proses mengenalkan dan mengajarkan anak tentang perilaku apa saja yang diharapkan dan dapat diterima lingkungan.Dengan kata lain, disiplinberkaitan dengan upaya orangtua mengenalkan anak pada aturan-aturan yang berlaku dalam lingkungan. Untuk itu,  pengajaran disiplin memang harus dimulai sejak usia dini, tentu disesuaikan dengan tingkatan usia.

Sebaiknya dilakukan sejak usia berapa?
Sedini mungkin. Cara yang ditempuh tentu tergantung pada perilaku apa yang ingin dibentuk serta disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Bahkan sejak usia bayi, disiplin sudah dapat diterapkan oleh ayah/bunda. Misalnya, saat anak tidur, orangtua meletakkannya pada box bayi atau tempat tidur atau tidak dengan cara menggendong. Kebiasaan seperti itu, tanpa disadari sudah mengajarkan anak untuk mandiri dan disiplin. Contoh lain, ketika memasuki usia balita, orangtua bisa membiasakan anak makan dan minum dalam kondisi duduk dan menggunakan tangan kanan ketika mengambil makanan.

Apa yang perlu diketahui orangtua dalam hal penerapan disiplin?
Pertama-tama tentu disesuaikan dengan perilaku apa yang ingin dibentuk serta mempertimbangkan usia anak. Beberapa hal yang penting dalam penerapan disiplin adalah :

1.     Komitmen ayah/bunda terhadap disiplin yang akan diterapkan. Hal ini menjadi penting karena anak akan melakukan apa yang orangtua katakan. Ketika orangtua  menjelaskan bahwa perilaku A akan mendapatkan konsekuensi B, maka konsekuensi itu harus benar-benar diterapkan.
2.      Buatlah target atau harapan yang realistis pada anak. Jangan meminta anak untuk melakukan sesuatu di luar batasan usia dan kemampuan yang dapat dilakukannya. Misalnya meminta anak harus dapat membersihkan diri setelah buang air saat usianya masih 2 tahun. Tentu itu tidak masuk akal.
3.    Tentukan hal-hal yang berarti bagi anak. Orangtua tentunya mengetahui kegiatan atau barang apa yang berarti bagi anak. Ini akan membantu ayah/bunda untuk dapat memberikan rewardsesuai dengan perilaku yang diharapkan. Rewardtidak selalu dalam bentuk barang, tetapi juga bisa berbentuk aktivitas yang menyenangkan, ucapan dukungan, pelukan dan sebagainya.
4.    Gunakan bahasa yang sesuai dengan tahapan perkembangan anak dalam menjelaskan aturan tertentu. Gunakan kalimat-kalimat sederhana dan penjelasan yang konkrit. Misalnya, pada anak usia pra sekolah dan kanak-kanak, jelaskan mengapa dia harus membuang sampah ke tempat sampah. Sedangkan pada anak usia pra remaja, ajak mereka diskusi.
5.      Penetapan aturan yang konsisten antara ayah dan bunda sangatlah penting, agar anak tidak menjadi bingung mengenai aturan mana yang dapat diikuti atau mencoba untuk mencari celah yang dapat dilanggar.
6.   Gunakan kalimat positif dalam memberikan arahan mengenai perilaku yang diharapkan. Misalnya, lebih baik mengatakan,  “Buang sampah di tempat sampah, ya nak.” daripada, ”Jangan buang sampah disitu.”

Apa akibatnya jika disiplin terlambat dilakukan?
Penerapan disiplin sejak dini akan membantu anak mengenal aturan dan menampilkan perilaku sesuai tuntutan lingkungan. Anak tidak bertindak dengan aturannya sendiri melainkan belajar berkompromi antara dirinya dengan tuntutan-tuntutan yang ada di lingkungan sekitarnya. Kebiasaan disiplin dalam keluarga yang sudah ditanamkan sejak dini akan membantu anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan aturan pada lingkungan baru yang dimasuki, misalnya sekolah.

Bagaimana jika anak sudah 9 tahun lebih, tetapi orangtua belum berhasil mendisiplinkan bahkan untuk hal-hal  sederhana seperti membereskan tempat tidur?
Ayah/bunda perlu memilah-milah perilaku disiplin apa yang ingin diterapkan pada anak. Pecah-pecah menjadi satuan perilaku, sehingga anak memahami tuntutan apa saja yang harus dipenuhi. Fokuskan pada satu perilaku sebelum beralih ke perilaku lainnya. Terapkan aturan yang konsisten dan buat kesepakatan bersama (pada anak usia yang lebih besar bisa diajak diskusi bersama) mengenai konsekuensi yang akan diterima jika ia berhasil menampilkan perilaku tertentu.
Diskusikan juga mengapa ayah/bunda merasa hal tersebut penting dan anak perlu melakukan. Cara ini akan membuat anak merasa dihargai karena “dimanusiakan” dan bukan sekadar robot yang harus mengikuti aturan tanpa mengetahui prinsip dasar pentingnya ia melakukan hal tersebut. Hati-hati, disiplin bisa menjadi pisau bermata dua. Penerapan disiplin yang konsisten disertai contoh tentu akan membantu anak untuk memahami dengan baik perilaku apa yang diinginkan serta respek pada orangtua. Sebaliknya, inkonsistensi aturan dan tanpa teladan akan membuat anak bingung dan hidup dengan aturannya sendiri.    

 BIODATA




Nama    : Ayu Windiyaningrum, M. Psi

TTL         : Jakarta, 5 April 1984

 Pendidikan : Fakultas Psikologi UI

2002-2006 – Lulus S1, Fak Psikologi UI

2008-2010 – Lulus Magister Profesi Psikologi Pendidikan Fak Psikologi UI



Saat ini berpraktik sebagai psikolog di PROXIMA consultant. Ia juga terlibat aktif dalam program Kick Andy Foundation. Setelah menyelesaikan pendidikan S1 Psikologi di Univesitas Indonesia (UI) dalam waktu 3,5 tahun, ia sempat menjadi asosiat psikolog di beberapa perusahaan.

Sejak S1 hingga saat melanjutkan pendidikan S2 Psikologi pada Program Magister Profesi Psikologi UI, penelitian-penelitian yang Ayu lakukan banyak berkaitan dengan siswa berkebutuhan khusus. Ia banyak terlibat dalam penanganan layanan psikologi, khususnya dalam bidang pendidikan.


Kenali Sejak Dini, Kelainan Kaki Buah Hati

Written By Unknown on Wednesday, December 26, 2012 | 3:10 AM


SORE itu suasana di Kids Foot Rahabilitation Center, RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara ramai aktivitas anak yang tengah menjalani terapi. Tobias, 4 tahun, misalnya, asyik menggambar untuk mengalihkan perhatian, saat kakinya mendapat terapi getar.

Lina sang Bunda, setia menunggu. Dua kali dalam seminggu dia menemani putranya melakukan terapi.  Di rumah dilanjutkan sesuai petunjuk dokter, termasuk penggunaan sepatu khusus saat tidur dan penggunaan sol khusus minimal 6 jam dalam satu hari. “Telapak kaki Tobias bentuknya flat, tidak ada cekungan, sehingga menyulitkan dia saat berjalan. Sekarang sudah mulai membentuk,” tutur Lina yang baru bisa mendapat giliran terapi saat usia anaknya 2,5 tahun.
Pasien di Kid’s Foot Rehabilitation Center memang luar biasa banyak. Daftar tunggu pemeriksaan dan terapi pun sudah sampai 2015. Dr Meidy H Triangto SpRM tidak menyangka pasiennya akan begitu banyak. Saat praktek, dia menyediakan hampir satu hari waktunya, dari pukul 09.00 hingga 21.00 WIB.

Apa saja sebenarnya yang perlu diketahui dan diwaspadai orangtua seputar tumbuh kembang kaki? Berikut cuplikan tanya jawab dengan Dr Meidy H Triangto SpRM.


Apa Sebenarnya yang dimaksud dengan kelainan pada kaki?
Kelainan pada kaki itu mencakup telapak kaki. Gangguan lainnya terjadi pada tungkai hingga lutut. Jenis kelainan yang dialami bisa beraneka macam, pada umumnya terjadi karena pergeseran sumbu atau rotasi tulang yang salah. Misalnya pergeseran tempurung lutut, hingga saat kaki dirapatkan, cenderung bergeser ke luar, berlainan arah atau justru cenderung ke dalam bertemu.

Secara garis besar, apa saja jenis kelainan yang bisa terjadi?
Ada banyak macam. Di antaranya telapak kaki flat, lengkung kaki terlalu tinggi (high arch), saat berjalan jari kaki mengarah ke dalam (toe in) atau mengarah keluar (toe out), gangguan pada tungkai kaki berbentuk X atau justru O, dan sebagainya.

Apa penyebab dari kelainan-kelainan tersebut?
Penyebabnya beraneka ragam. Faktor internal menyangkut genetika. Tapi bisa juga dipicu faktor eksternal seperti salah pakai sepatu hingga menyebabkan telapak kaki flat, cara gendong, pemakaian popok modern sekali pakai yang terlalu sering dan tidak sesuai ukuran, cara tidur yang salah misalnya terlalu sering menidurkan anak dengan posisi telungkup seperti gaya katak, cara duduk yang cenderung ditekuk membentuk huruf W hingga penggunaan baby walker. Untuk penggunaan baby walker, saya tidak anjurkan sampai anak benar-benar sudah bisa berdiri, biasanya sekitar usia satu tahun, sudah kuat menyangga seluruh tubuh. Jika belum, kemungkinan besar bisa berpengaruh pada pertumbuhan kaki.

Bagaimana orangtua bisa tahu ada kelainan kaki pada anaknya?
Perhatikan cara jalannya. Ada yang cenderung jinjit meski sudah lewat usia dua tahun. Ada juga ketika berjalan seringkali jatuh. Perhatikan juga bentuk telapak kaki, mata kaki, tungkai, dan lutut.
Tapi satu hal yang perlu diketahui, pertumbuhan kaki bayi itu berubah-ubah hingga usia sekitar 6-7 tahun. Saat bayi telapak kaki cenderung flat karena masih diapisi lemak dan belum digunakan untuk berjalan. Secara perlahan sekitar usia 1,5 sampai 2 tahun mulai terbentuk lengkungan. Selain itu, hingga usia 18 bulan ada kecenderungan sudut lutut pada bayi melengkung atau disebut (bowleg). Setelah 18 bulan mulai berubah dengan kecenderungan huruf X. Perubahan-perubahan seperti ini terjadi hingga usia 6-7 tahun. Tapi tentu perubahan yang dimaksud masih dalam sudut derajat pergeseran tungkai dan lutut yang normal.

Bagaimana orangtua bisa tahu normal atau tidak?
Orangtua mesti memperhatikan baik-baik, apakah ada kelainan bentuk pada kaki anaknya? Apakah anak sering jatuh padahal usia anak sudah 3 tahun? Apakah ada kecenderung terus lari (hiperaktif) tidak bisa jalan pelan? Atau bahkan mengeluh nyeri, kaki cepat lelah saat melakukan aktivitas? Semua itu bisa jadi pertanda adanya kelainan bentuk kaki.
Jika memang terlihat ada kelainan, segera bawa ke dokter. Di Kids Fot, saya biasanya melakukan beberapa tahap pemeriksaan statik dan dinamik. Pemerinsaan foot print dilakukan dengan cara meihat cara jalan anak. Kemudian dilakukan pemeriksaan statis, diukur panjang kaki dan sudut putaran lutut. Setelah itu dilakukan tindakan sesuai kondisi. Misalnya memakai sepatu dengan sol khusus, sepatu khusus untuk tidur, dan tentu terapi.

Kapan waktu yang tepat untuk memulihkan kelainan pada kaki?
Usia di bawah lima tahun adalah waktu yang tepat. Di bawah usia itu, kaki masih bisa dibetulkan dengan sempurna. Di atas usia 5 tahun, masih bisa diterapi, tapi hasilnya tidak bisa sesempurna seperti saat dilakukan di bawah usia 5 tahun.

Tadi disinggung soal kesalahan memilih sepatu. Sepatu seperti apa yang baik untuk anak?
Saat anak merangkak sebaiknya orangtua memilih sepatu yang solnya lentur dan bagian punggung kaki tidak banyak pernik. Sebab, ketika merangkak bagian punggung kaki akan menghadap ke bawah.
Saat anak mulai berjalan merambat, jangan memilih sepatu sandal. Saya selalu anjurkan untuk memilih jenis sepatu tertutup, dan terbaik adalah sepatu olahraga, karena ada penyangga bagian samping kaki sehingga membantu proses pembentukan.
Seringkali ada pendapat, saat anak mulai berjalan sebaiknya tidak usah memakai sepatu alias bertelanjang kaki atau nyeker. Ini salah. Kita kembalikan guna sepatu, yaitu untuk melindungi kaki dan membantu proses pembentukan. Mungkin pada awalnya anak kita jadi lebih susah berjalan atau lebih lambat karena perlu penyesuaian, tapi cara ini baik untuk pembentukan kaki..

DR Meidy H Triangto
 Dr Meidy H Triangto merupakan pribadi unik dan sederhana. Saat praktek enggan menggunakan jas putih khas dokter, dengan alasan supaya anak-anak merasa lebih nyaman.
Sebelum lulus kedokteran, sempat ikut kuliah teknik sipil karena senang dengan cara kerja ukur-mengukur. Tapi akhirnya pada 1986 lulus sebagai dokter umum dari Universitas Indonesia. Dr Meidy menjalani praktek kerja di Ambon dan di RS Carolus Jakarta. Dia mendapat beasiswa ke Filipina, tapi tidak diselesaikan karena hamil. Dr Meidy memutuskan kembali ke Universitas Indonesia mengambil Spesialis Rehabilitasi Medik atau sekarang disebut Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Medik.
Di sinilah dia melakukan penelitian tentang kelainan pada kaki dan menyodorkan rumusan teori penghitungan rotasi lutut, pengukuran jarak kaki, dsb. Hobi ukur-mengukur yang dulu sempat menjadi pertimbangan mengambil jurusan teknik sipil pun terpenuhi.
Pada tahun 2000, Dr Meidy mulai melakukan praktek dan memilih konsisten di jalur rehabilitasi kaki sesuai dengan penelitian yang dia lakukan, meski gelar SpRM pada dasarnya melingkupi semua jenis rehabilitasi.
Awalnya sempat praktek di beberapa rumah sakit, tapi akhirnya memilih konsentrasi di Kids Foot Rehabilitation Center, RS Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Alasannya sederhana saja, dekat dengan rumah, sehingga waktu yang terbuang diperjalanan bisa digunakan lebih maksimal untuk pasien.


Belilah Masa Depan dengan Harga Sekarang

Written By Unknown on Monday, December 24, 2012 | 11:42 AM


PEMBAGIAN rapor tengah semester baru saja berlalu. Sebagian orangtua tersenyum gembira, sebagian lagi cemas melihat nilai-nilai yang tertera di rapor anaknya.Sebenarnya, seberapa penting nilai bisa menjadi jaminan masa depan sang buah hati?

Motivator termuda di Asia Bong Chandra mengatakan, nilai memang penting, tapi jelas bukan segala-galanya. Tingginya nilai tidak mutlak menjamin anak bisa sukses di masa depan. Yang perlu diketahui adalah memahami trend yang sedang terjadi di dunia, trend masa lalu, dan trend yang akan terjadi di masa mendatang. Dengan memahami trend, maka bisa diprediksi apa yang akan dibutuhkan dunia pada masa depan. 

Untuk itu, Bong Chandra menjabarkan pentingnya konsep mau berubah. Tentukonteksnya terkait dengan orangtua siswa. Orangtua diharapkan mau berubah mengikuti zaman alias tidak ketinggalan zaman, termasuk dalam upaya pemahaman teknologi.  Konsep ini menjadi penting karena anak butuh model yang bisa ditiru atau setidaknya bisa mengarahkan. 

Begitu kira-kira pandangan yang sering diungkapkan Bong Chandra dalam berbagai seminar tentang pendidikan. Hasil seminar tersebut kemudian diubah dalam format tanya jawab dengan harapan lebih memudahkan pembaca.

Bagaimana menurut Anda pandangan orangtua tentang pendidikan?
Sejujurnya, banyak orangtua masih memandang pentingnya nilai pelajaran. Mereka berusaha agar anaknya mendapat nilai memuaskan. Padahal di era informasi, nilai tinggi bukan satu-satunya yang terpenting.

Mengapa berpendapat demikian?
Fakta membuktikan, banyak orang sukses yang tidak mendapat nilai bagus saat di sekolah. Dan fakta ini sebenarnya banyak diketahui orangtua. Tapi tahu dan mengerti berbeda. Banyak yang tahu bahwa nilai tinggi bukan satu-satunya penentu kesuksesan, tetapi tidak mengerti. Akhirnya anak tetap dituntut untuk mendapat nilai tinggi, mengabaikan faktor lain.
Saya punya teman SMA, dan salah seorang teman saya yang lain mengatakan bahwa teman saya yang itu otaknya kosong, karena nilai sekolahnya tidak memuaskan. Sekarang, teman saya yang dibilang otaknya kosong punya BMW, punya studio rekaman, sedangkan teman yang tadinya mencetuskan ejekan jadi guru fisika. Ini hanya salah satu bukti bahwa kesuksesan tidak melulu tergantung pada nilai-nilai d sekolah.

Lalu, bagaimana sebaiknya orangtua bersikap?
Kita perlu memberi kebebasan yang bertanggung jawab. Era informasi merupakan era spesifik bukan generalisasi seperti saat era industri.  Spesifik itu bagaimana? Di era industri, kita belajar banyak hal dan tahu banyak hal tapi tidak mendalami. Di era informasi, kita  perlu mendalami satu hal, menguasai yang spesifik. Itu sebabnya, sekolah di beberapa negara maju, menggali terus satu hal yang diminati anak.
Misal, anak kita suka ngerumpi, biarkan dia jadi perumpi terbaik di dunia. Pasti dia akan kaya dan sukses. Oprah Winfrey contohnya. Dia suka ngerumpi sama orang terkenal. Dia ngerumpi dan memanfaatkan teknologi informasi, alhasil sekarang kaya dan terkenal.
Bagaimana kalau ada ibu yang mengatakan, “anak saya hobinya makan.”
Maka, jadilah ahli kuliner, misalnya seperti Bondan Winarno. Hobinya jalan-jalan, makan enak, kaya, terkenal, dan dua katanya ‘mak nyus’ begitu dikenal dan menentukan.
Intinya, di era informasi, butuh sesuatu yang spesifik, tidak hanya tahu semua tapi sedikit-sedikit. Perlu satu bidang yang dikuasai. Namun, era informasi pun sekarang akan segera berakhir. Saat ini dunia mulai memasuki era konseptual.

Jabaran era konseptual?
Saya akan jabarkan terlebih dahulu, ada empat era yang sudah terjadi, yaitu era agraris, industri, informasi, dan sekarang kita memasuki era konseptual. Di era konseptual yang dimulai tahun 2012 ini, orang yang sedikit anehlah yang akan menang. Lihat saja program televisi, tidak lagi mencari presenter yang pakai jas, tapi justru yang sedikit nyeleneh. Itu sebabnya Olga Saputera bisa sukses sebagai presenter. Lagunya yang hanya mengucapkan kata ‘hancur’ juga cukup popular. Jadi yang dilihat sekarang bukan lagi semata kualitas, tetapi kemampuan berkomunikasi.
Komunikasi ini penting.Bayangkan sebuah perumahan yang akan dibangun di Jalan Rencong misalnya. Rumahnya dibuat sangat prima dan kemudian dikomunikasikan dalam promosi dengan nama Perumahan Rencong Indah. Bandingkan dengan perumahan berkualitas standar, tapi mengusung nama Rencong Mansion. Mana kira-kira yang akan menarik dan laku dijual? Itu pula sebabnya, ada yang menamai tahu goreng menjadi crispy tofu.
Intinya, kemampuan komunikasi di era konseptual sangatlah penting. Di dua era ini, kita perlu mempersiapkan anak menjadi teknopreneur bukan hanya sekadar entrepreneur.

Itu berarti, anak-anak harus dididik memahami teknologi dan komunikasi?
Kalau ingin anak kita sukses, didik dia untuk mahir teknologi yang bertanggung jawab. Belilah masa dengan harga sekarang. Pengguna internet di dunia ini terus berkembang. Orang yang menguasai teknologi, orang yang mempunyai media, bisa dikatakan merekalah yang memiliki dunia. Teknologi sudah mengubah dunia dan mengubah bangsa kita. Dan komunikasi jadi perantara utama.

Lebih spesifik, apa yang harus dilakukan orang tua?
Berubahlah. Orangtua jangan ketinggalan zaman, teruslah berubah. Manusia tahu dirinya harus berubah, tetapi kadang tetap tidak mau berubah. Mengapa? Karena berubah itu tidak nyaman. Yang perlu diingat, ketidaknyamanan itu justru salah satu indikator dari pertumbuhan.
Yang juga perlu diingat, anak biasanya tidak suka diperintah langsung. Misalnya, supaya anak tidak melulu ketagihan game, carilah model yang bisa dijadikan contoh. Misalnya, Bill Gate mencipakan game bukan hanya menggunakan, dsb.


                                                                                   
BIOGRAFI BONG CHANDRA
BONG Chandra merupakan entrepreneur muda yang sukses dibidang property. Pada usia ke-22, dia berhasil membangun proyek perumahan pertamanya seluas 5 hektar dengan nilai investasi Rp180 Milyar. Dia juga merupakan penulis bestseller dan merupakan motivator termuda di Asia.
Bong Chandra
anak ke dua dari tiga bersaudara, dilahirkan di Jakarta 25 Oktober 1987. Lahir dari keluarga sederhana, dan dari kecil sampai SMA tidak ada prestasi yang menonjol. Awalnya Bong Chandra adalah anak pemalu, tidak mempunyai banyak teman dan sakit-sakitan.
Krisis ekonomi mengubah hidupnya. Keluarganya mengalami kebangkrutan. Keadaan yang begitu sulit membentuk Bong Chandra menjadi remaja yang lebih tangguh dibanding anak seusianya. Di usia 18 tahun dia mulai merintis bisnis bersama teman-temannya. Penolakan yang dia alami di awal usaha justru membuatnya kian bertumbuh.
Seperti ditulis dalam bongchandra.co.id, saat ini dia telah memimpin 3 perusahaan dan membawahi 150 karyawan.
Sebagai motivator, Bong Chandra kerap diundang ke perusahaan-perusahaan besar skala nasional dan internasional untuk memberi motivasi.

Amankah Penggunaan Botox dan Filler?

Written By Unknown on Friday, December 14, 2012 | 11:13 AM

TAMPIL menarik kini bukan hanya monopoli perempuan, tetapi juga para pria. Berbagai cara dilakukan, termasuk memanfaatkan teknologi dan temuan kedokteran face lift tanpa bedah dengan botox dan filler. Pertanyaannya, amankah penggunaan dua bahan tersebut? Jika aman, mengapa ada kasus-kasus kegagalan?

Untuk menambah pemahaman, wawasan, mengetahui keamanan, kegunaan, dan membantu mengambil keputusan perlu tidaknya menggunaan botox dan filler, Free Magazine Sang Buah Hati melakukan wawancara dengan dr Olivia Ong dipl AAAM, aesthetician and anti aging specialist. Berikut kutipan wawancaranya.

Seberapa aman sebenarnya penggunaan botox, filler, dan silikon?
Jangan pernah sekali-kali melakukan suntik silikon, apalagi di daerah wajah. Dalam dunia kedokteran silikon cair sama sekali tidak direkomendasikan. Badan Pengawas Obat dan Makanan/Food and Drug Administration (FDA)  Amerika dengan tegas melarang penggunaan silicon cair.
Untuk botox dan filler FDA dan badan serupa di 75 negara sudah menyetujui. Saat ini sudah lebih dari 3 juta perawatan botox yang dilakukan untuk keperluan kosmetik, dan menempati urutan pertama dalam hal kepuasan pasien.

Jika aman, mengapa ada kasus kegagalan yang menyebabkan mata turun dll?
Nah, ini yang perlu diedukasi pada masyarakat. Yang perlu diingat, jangan pernah melakukan tindakan penyuntikan botox dan filler di sembarang tempat atau pun sembarang dokter.
Meski tindakan penyuntikan kelihatannya sederhana, namun harus dilakukan dokter spesialis yang mengetahui titik-titik saraf otot yang tepat. Jika meleset penyuntikannya, bisa memunculkan efek samping seperti beberapa kasus yang mungkin sudah sering didengar masyarakat. Antara lain bisa menyebabkan mata turun sebelah, alis menjadi tidak seimbang, mata berkantung, mulut miring, dsb.

Apa sebenarnya Manfaat botox dan filler?
Dalam dunia kosmetik dan estetika, botox dan filler digunakan untuk meningkatkan penampilan fisik tanpa bedah. Misalnya mengencangkan kulit, menyamarkan atau bahkan menghilangkan kerut wajah, menjaga kekenyalan kulit dengan cara mengisi bagian yang sudah mulai kendur, meniruskan wajah, dsb.
Selain itu, botox juga kerap digunakan untuk mengobati telapak tangan yang mengeluarkan keringat berlebihan. Beberapa pasien saya anak sekolah datang dengan kasus seperti ini. Banyaknya keringat di telapak tangan sangat mengganggu, sehingga ketika mereka menulis bisa membuat kertas atau buku robek. Botox bisa membantu mengendalikan kelenjar keringat.

Apa sih sebenarnya perbedaan botox dan filler?
Pada  dasarnya botox bekerja untuk merelaksasi otot, hingga wajah bisa lebih kencang dan keriput menjadi samar atau dihilangkan. Sedangkan filler intinya mengisi bagian kosong di wajah karena faktor usia, gayahidup, dll Misalnya, membuat pipi kembali terisi, bibir terlihat penuh, mengembalikan kekenyalan kulit, mengecilkan pori-pori, dsb.
Jadi fungsi botox dan filler berbeda, tapi keduanya saling melengkapi dan bisa digunakan bersamaan.

Berapa lama efek botox dan filler bisa bertahan?
Sangat tergantung pad kualitas botox dan filler yang digunakan. Sebuah merek misalnya, bisa mengeluarkan beberapa produk yang sama, namun dengan kualitas berbeda dan harga berbeda pula. Jadi tergantung pilihan dan juga pengalaman dokter dalam memilih produk. Berdasarkan pengalaman, saya sendiri memiliki satu pilihan produk yang ketahanannya bisa mencapai 6-12 bulan. Bahkan untuk terapi kedua dan seterusnya, tingkat ketahanannya meningkat, bisa mencapai 18 bulan.

Bagian mana saja yang biasanya diperbaiki dan apakah cukup banyak pasien pria yang melakukan tindakan botox dan filler?
Di dua klinik saya, sekitar 30% pasien adalah laki-laki. Bagian wajah yang kerap kali diperbaiki, saya sebut sebagai segitiga kecantikan wajah. Penilaiannya berdasarkan keseimbangan atau proporsional horizontal dari garis rambut di atas dahi hingga garis atas alis, kemudian garis alis hingga pangkal bawah hidung, dan terakhir dari hidung hingga dasar dagu.

Lamakah prosedur botox dan filler?
Tidak. Untuk botox cukup 10 menit, filler sekitar 30 menit. Waktu pemulihannya pun cepat, pasien langsung bisa beraktivitas. Hanya saja ada beberapa hal yang jangan langsung dilakukan, misalnya setelah penyuntikan selama enam jam jangan mengambil posisi tidur, jangan sauna di suhu ekstrem, dan selama dua minggu jangan dulu melakukan perawatan wajah seperti facial. Tapi setelah itu, silakan beraktivitas seperti biasa.
.
Mahalkah biayanya?
Dibandingkan dengan tindakan kosmetik dengan cara bedah, jelas sangat, sangat murah. Prosesnya pun cepat dan pasien bisa langsung beraktivitas.

------------------------------------------------------------------------------------------------

BIODATA


Nama:
dr Olivia Ong Dipl AAAM – The American Academy of Aesthetic Medicine Aesthetician and anti aging specialist.

Pendidikan:
  • Kuliah di Atmajaya dan lulus dengan predikat cum laude, gelar dokter diperoleh pada 2006.
  • Menyelesaikan kursus estetika medis di The American Academy of Aesthetic Medicine pada 2009.
  • Sampai sekarang tidak pernah berhenti meningkatkan kemampuan dengan mengikuti pelatihan dan kegiatan akademis internasional.

Kegiatan:
Selain melakukan praktek, dr Olivia Ong kerap diminta menulis artikel di berbagai majalah dan surat kabar, menjadi pembicara, dan konsultan nutrisi, dan moderator.






Olah Raga Tidak Selalu Menyehatkan

Written By Unknown on Monday, December 10, 2012 | 9:38 PM



Olahraga ternyata tidak selalu menyehatkan. Salah penerapan justru bisa berakibat fatal.

 SERINGKALI masyarakat awam salah kaprah menjalani kegiatan olahraga dan melakukan diet ketat untuk mencapai kata sehat dan langsing. Padahal, olahraga bak atlet tanpa memperhitungkan kerja jantung bisa berujung pada kematian.

Salah kaprah itu mendorong Dr Michael Triangto Sp Ko, Direktur  Slim + Health Sport Therapy di RS Mitra Kemayoran dan Mal Taman Anggrek, untuk bergerak mengedukasi masyarakat. Setelah kenyang pengalaman menangani atlet, kini dia ingin masyarakat awal memahami bahwa olahraga yang tepat tidak harus bekerja keras bak atlet. Cukup lakukan gerakan sesuai kebutuhan. Dengan gerakan dan diet yang tepat, tujuan yang diinginkan bisa tercapai tanpa harus menyiksa diri.

Berikut petikan wawancara yang dilakukan Majalah Buah Hati bersama Dr Michael Triangto, di salah satu tempat praktiknya, Slim + Health Sport, Mal Taman Anggrek, Jakarta.

Apa yang dimaksud dengan sport terapi?
Devinisi sport terapi, adalah program pengobatan dan pelangsingan yang menggunakan olahraga terukur untuk meningkatan derajat kesehatan  seseorang dan membantu proses penyembuhan penyakit tertentu seperti  hipertensi, diabets osteoporosis, asma, dll.
Jadi, olahraganya berdasarkan kebutuhan setiap individu. Tergantung kondisi tubuh, metabolisme, jumlah lemak, cairan tubuh, dll. Semua dilakukan terukur, tidak perlu melakukan olahraga berat sampai seperti atlet.
                                                                                           
Batasan berat atau ringan dalam olahraga itu seperti apa?
Begini, kita lihat saja ada satu garis bernilai 100%. Atlet harus digenjot latihan hingga di atas 100%. Mereka memang bertujuan untuk menang, mendapat piala, dan mendapat uang. Mereka latihan keras di bawah pengawasan. Tapi di sport terapi yang dibicarakan adalah olahraga sehat bukan untuk menang. Jadi, buat apa menyiksa diri latihan seperti atlet? Porsi berlebih bagi masyarakat awam justru bisa berbahaya, apalagi tanpa diikuti pengukuran denyut jantung. Kasus beberapa selebritas yang meninggal seusai olahraga dikarenakan faktor ini.

Apakah  sport terapi efektif turunkan berat badan?
Jawabannya iya. Sport terapi memungkinkan masyarakat awam melakukan olahraga ringan sesuai kebutuhan tanpa perlu diet ketat. Prinsipnya, latihan penurunan berat badan yang  bagus adalah 4 D. Dapat dilihat hasilnya,  dapat dirasakan perbedaannya  (pakaiannya kendor misalnya),  dapat dilakukan dengan enjoy, dapat diulang pada kesempatan lain.

Apa kelemahan sport terapi?
Kelemahan utamanya, penurunan berat badan berlangsung lambat. Satu bulan mungkin hanya 3 kg, namun bisa juga 6 - 8 kg. Kelebihannya, begitu turun, berat badan yang dimiliki jauh lebih konsisten.

Apa saja program yang ditawarkan terkait penurunan berat badan?
Di antaranya,  program penurunan berat badan biasa,  program penurunan berat badan usai melahirkan bersama buah hati, dan ada program penurunan dengan kondisi tertentu. Misal, pipi sudah sangat tirus, tapi pinggul atau bagian tertentu besar. Ini, bagian  dari kecantikan yang masuk dalam sport terapi.

Setiap olahraga butuh berapa lama?
Setiap orang berbeda, tapi minimal 30 menit. Prinsipnya, latihan harus dilakukan rutin. Di sini, intensitas latihan menjadi semacam pengganti dosis obat.

Mengapa ada waktu minimal dalam berolahraga?
Orang berpikir, olahraga itu membakar lemak. Namun, kenyataannya 20 menit pertama olahraga, tubuh membakar gula bukan lemak. Setelah lewat 20 menit baru dilakukan pembakaran lemak. Orang juga beranggapan, latihan olahraga semakin keras, semakin banyak lemak dibakar.  Kenyataannya, latihan berat akan menggunakan gula sebagai sumber energi. Sedangkan  latuihan ringan justru akan membakar lemak.
Dari sini bisa dipahami, latihan olahraga tidak perlu berat, yang penting tepat sasaran dan intensitasnya terjaga..

Bisa lebih dijelaskan mengenai program latihan ibu usai melahirkan?
Program ini lahir karena ibu biasanya sulit keluar rumah, karena tidak tega meninggalkan anak. Maka diciptakan program ini. Ibu bisa berolahraga bersama buah hati. Gerakan olahraganya melibatkan buah hati, dan bisa dilakukan di rumah setelah mendapat program sesuai kondisi dan kebutuhan. 

 ***



BIO DATA  Dr MICHAEL TRIANGTO Sp Ko

Dr Michael Triangto Sp KO

Dr Michael Triangto Sp KO lahir di Jakarta 28 Oktober 1959. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atmajaya. Jakarta pada 1987 dan menjalani wajib kerja di Ambon, dia melanjutkan studi Spesialisasi Kedokteran Olahraga di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Dr Michael banyak bergabung dalam tim medik kegiatan olahraga. Mulai dari Ikatan Sport Sepeda Indonesia, KONI, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia, sampai biliar. Pada 1998, mulai mengawali karier di RS Mitra Kemayoran, Jakarta..

Dari berbagai pengalaman yang ditimba, Dr Michael melihat adanya kebutuhan dan kesenjangan bimbingan olahraga antara atlet dan orang awam. Akibatnya, di kalangan awam seringkali terjadi salah kaprah dalam menjalani kegiatan olahraga, baik untuk kesehatan atau pun tujuan lain, yaitu mendapatkan berat badan ideal.

Kini selain bisa ditemui di RS Mitra Kemayoran, Dr Michael juga menjabat sebagai Direktur di Slim + Health Sport Therapy di RS Mitra Kemayoran dan Mal Taman Anggrek. Sejak 2007 dia juga menjabat sebagai Kepala Departemen Olahraga PBSI.

Untuk lebih mengenalkan olahraga yang benar pada masyarakat awam, Dr Michael menularkan ilmu lewat penulisan buku. Dua bukunya yang telah diterbitkan Intisari, berjudul, Jalan Sehat dengan Sport Therapy dan Langsing & Sehat dengan Sports Therapy.


Ikut Lomba Bukan Berarti Harus Menang

Written By Unknown on Friday, November 9, 2012 | 10:17 PM

MENGIKUTSERTAKAN anak dalam berbagai lomba seperti fashion show, model, menyanyi, menggambar, mewarnai, dll memang menyenangkan. Apalagi jika sang buah hati bisa keluar sebagai juara…duuuh bangganya ayah bunda sebagai orangtua.

Lomba-lomba yang banyak diadakan, mulai dari skala kecil seperti saat perayaan 17 Agustus di RT/RW hingga mal-mal memang bisa diambil banyak manfaat. Mulai dari pengembangan potensi sampai memupuk rasa percaya diri anak. Namun, orangtua juga perlu mewaspadai kemungkinan munculnya dampak negatif, terutama jika mereka salah memberi motivasi.

Untuk memahami lebih jauh tentang dampak positif dan negatif keikutsertaan anak dalam berbagai lomba, Free Magazine Sang Buah Hati mewawancarai psikolog Joyce Novita Psi. Berikut kutipan wawancaranya.


Apa sebenarnya nilai positif dan manfaat yang bisa diambil dengan mengikutsertakan anak dalam berbagai lomba?
Mengikutsertakan anak dalam kegiatan perlombaan pada dasarnya baik. Banyak hal-hal positif yang bisa diambil dari kegiatan tersebut, di antaranya dapat menumbuhkan dan meningkatkan rasa percaya diri anak. Dalam perlombaan fashion show misalnya, anak dilatih untuk berani tampil di depan banyak orang tanpa merasa malu atau takut. Lewat perlombaan menggambar dan mewarnai, anak belajar untuk percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki. Juga membantu untuk menyadari bahwa mereka memiliki kelebihan dalam satu bidang tertentu. Melalui lomba, kemampuan anak pun diasah agar menjadi lebih baik lagi.
Selain itu, anak pun menjadi mengetahui potensi/bakat yang ada pada diri mereka. Misalnya, awalnya orangtua hanya iseng mengikutsertakan anaknya dalam lomba menggambar, kemudian ternyata menang juara satu.
Di lain kesempatan, orangtua mengikutsertakan anaknya lagi ke perlombaan menggambar dan kembali kembali memperoleh piala. Dari situ orangtua tentunya menyadari bahwa sang buah hati memiliki potensi menggambar. Melihat potensi anak yang sudah jelas ini, hendaknya orangtua memfasilitasi bakat/potensinya tersebut agar semakin terasah dengan baik.

Lalu apa saja yang perlu diwaspadai oleh orangtua?
Hal yang perlu diwaspadai adalah motivasi orangtua ketika mengikutsertakan anaknya dalam berbagai perlombaan. Kerapkali yang sering ditemui adalah orangtua yang terlalu bersemangat dan bahkan membuat target ketika anaknya ikut perlombaan.
Biasanya keikutsertaan anak dalam suatu perlombaan tertentu sebenarnya merupakan ambisi pribadi dari orangtua (entah sang Ibu atau Ayah). Akhirnya menuntut anaknya sedemikian rupa dengan tujuan agar menang perlombaan.
Di sini perlombaan- sudah bukan menjadi hal yang positif, tapi justru bisa membuat anak menjadi merasa tertekan secara mental. Bila ternyata anak tidak meraih juara ataupun satu piala pun, orangtua kemudian menyalahkan, baik secara langsung maupun tidak langsung atau menunjukkan rasa kecewa. Kalau itu terjadi, bisa membuat anak menjadi rendah diri. Lambat laun, anak akan merasa dirinya tidak memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan kepada orangtuanya.

Bagaimana sebaiknya sikap orangtua?
Pertama-tama yang perlu dipahami orangtua adalah, keikutsertaan anak dalam berbagai lomba sebaiknya bertujuan fun (membuat anak senang). Jadi, tidak ada tuntutan dari pihak manapun terhadap anak. Bila anak menang, lihat kejadian tersebut sebagai ‘nilai lebih’ yang didapat dari mengikuti lomba. Namun bila kalah, tetap terima anak apa adanya dan tidak melihat anak sebagai loser (orang yang kalah dan tidak mampu/tidak bisa).

Nilai seperti apa yang bisa ditanamkan pada anak lewat lomba-lomba?
Nah, terkadang, ada pula anak yang tidak bisa menerima kekalahan. Orangtua hendaknya dapat bertindak dewasa dan memberikan pengertian kepada anak bahwa hal yang wajar dalam suatu perlombaan adalah menang dan kalah. Jadi, tidak menjadi masalah jika tidak memperoleh piala atau hadiah. Orangtua hendaknya memberi dukungan dan semangat agar anak tidak mudah menyerah atau patah semangat ketika mengalami kekalahan.
Pada dasarnya lomba apapun (fashion show, menggambar, menyanyi, mewarnai, memasak, menari, dan sebagainya) dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Faktor orangtualah yang  menjadi penentu, apakah lomba-lomba yang diikuti akan member dampak positif atau negatif.



BIODATA

Nama:
Joyce Novita Psi

Spesialis:
Psikologi

Pendidikan:

  • Bachelor Degree in  Psychology, Unika Atma Jaya, Jakarta.

  • Proffesion Certificate Program in Psychology, Unika Atma Jaya, Jakarta.

  • Pengalaman Kerja:
  • Psychologist at Sahid Sahirman Medical Center.
  • HRD Staff at Bank Global International Tbk.
  • HRD Supervisor at  Indomarco Adi Prima.
  • Psychologist at Mutiara Hatiku Clinic.
  • Psychologist at Pondok Asih Shekinah, Rehabilitasi Stres dan Narkoba.
  • School Counselor at Senior High St. Laurensia School, Serpong.
  • Psychologist at Omni International Hospital Serpong.

  • Pengalaman Organisasi:
  • As a member and active in Senate of Faculty of Psychology-Atma Jaya.
  • Active in Youth Catholic Organization (Mudika, Antiokhia, KTM). I participated in many activities in those organizations as a leader, secretary, treasurer, etc.
  •  
  • Courses and Training English course at Lembaga Bahasa Atma Jaya.
  • Ayo Bunda Ajarkan Anak Merawat Gigi

    Written By Unknown on Sunday, October 7, 2012 | 6:47 AM

    GIGI dan mulut yang sehat akan mendukung proses mengunyah yang efektif. Jika terjadi karies pada gigi, proses mengunyah tidak bisa berjalan dengan baik, sehingga akan memengaruhi proses masuknya nutrisi ke dalam tubuh. Akibatnya, proses tumbuh kembang sang buah hati bisa terganggu.

    Itu sebabnya, memperkenalkan pentingnya proses merawat gigi yang benar sejak usia dini sangat diperlukan. Apalagi  kerusakan gigi bisa menjalar ke bagian lain, hingga bisa memunculkan penyakit tambahan. Begitu pentingnya kesehatan gigi, sehingga tidak mengherankan jika World Dental Federation memutuskan menetapkan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia setiap 12 September. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran pentingnya kesehatan gigi dan mulut secara global.

    Untuk mengetahui bagaimana cara merawat gigi dan mengedukasi anak sejak usia dini, Majalah Sang Buah Hati mewawancarai Dr Gigi Edward Daniel. Berikut kutipan wawancaranya.




    Idealnya, sejak usia berapa anak harus memeriksakan kesehatan gigi?
    Pemeriksaan kesehatan gigi anak sebaiknya dimulai sejak usia bayi dan balita, mengingat  adanya potensi terjadinya kerusakan pada gigi dan pentingnya melakukan edukasi kepada orangtua mengenai tata cara pemeliharaan kesehatan gigi yang benar.

    Haruskah ada pemeriksaan rutin?
    Pada gigi anak, perlu dilakukan pemeriksaan rutin setiap 6 bulan sampai 1 tahun sekali, supaya kita bisa mengevaluasi kondisi akhir dari gigi mereka. Dengan demikian bisa diketahui, apakah  ada lubang, adakah gigi yang belum tumbuh, dan apakah pembersihan sudah menyeluruh atau masih ada bagian tertentu yang terlewatkan.

    Selain Yang lebih penting adalah menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan membentuk kebiasaan untuk melakukan pengecekan secara rutin ke dokter gigi. Apabila seorang anak sudah terbiasa, maka kebiasaan tersebut akan menjadi prilaku menetap sampai dewasa.

    Pada batita, kebiasaan seperti apa yang perlu dihindari?
    Kebiasaan meminum susu sewaktu anak tidur. Makanan dan minuman yang mengandung gula memegang peranan penting dalam  kesehatan gigi. Selain itu, kebiasaan menggigit kuku dan menghisap ibu jari  menyebabkan  gangguan pada bentuk rahang, langit-langit, dan susunan gigi.

    Jika gigi anak (gigi susu) berlubang dan geripis (karies), apakah berbahaya?
    Kerusakan pada gigi dapat mengganggu proses mengunyah makanan, sehingga proses masuknya nutrisi ke dalam tubuh akan mengalami gangguan. Akibat lanjutannya, proses tumbuh kembang anak ikut terganggu. Selain itu, komunikasi dan konsentrasi anak juga ikut terganggu akibat rasa sakit yg ditimbulkan. Orangtua perlu membawa anak ke dokter gigi untuk melakukan perawatan dan evaluasi berkala setiap 6 bulan sekali.

    Kasus gigi seperti apa saja yang sering terjadi pada anak dan perlu diwaspadai?
    Kasus karies rampan sering terjadi pada anak di mana karies menyerang banyak gigi atau semua gigi secara akut/cepat. Awalnya tampak bercak putih (white spot) pada email yang melebar mengelilingi gigi pada daerah leher gigi yang merupakan perbatasan antara gigi dan gusi. Kerusakan ini berlangsung cepat sehingga syaraf pada gigi terinfeksi dan anak mulai merasa sakit bahkan terjadi pembengkakan.

    Untuk menghindari hal ini, maka tindakan pencegahan adalah solusi terbaik. Anak harus dimotivasi untuk ikut berperan dalam menjaga kebersihan gigi. Orangtua perlu melatih anak untuk menyikat gigi setiap selesai makan/minum susu dan setiap mau tidur serta tetap mengawasi kegiatan menyikat gigi sampai anak berusia 7-8 tahun.

    Orangtua juga perlu mendidik memberi contoh yang baik dengan tidak makan/mengemil makanan dan minuman manis di antara waktu makan. Di samping itu, anak juga harus dibawa ke dokter gigi untuk pemberian fluor secara topikal dengan bahan fluoride yang dioles langsung ke gigi dan memberikan perawatan pit dan fissure sealant untuk mengisi cekungan/parit yang ada pada gigi sebagai tindakan pencegahan.

    Bagaimana perawatan gigi yang benar pada gigi susu dan gigi tetap?

    • Konsumsi makanan yang kaya serat seperti buah dan sayur untuk meningkatkan gesekan pada gigi sehingga terjadi efek self cleansing dan untuk meningkatkan produksi air liur.
    • Menyikat gigi sesudah makan pagi dan sebelum tidur dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride. Lama menyikat gigi yang baik adalah 2-3 menit.
    • Berkumur-kumur dengan air setelah makan untuk menghindari makanan terselip pada gigi.
    • Kunyah permen karet yang tidak mengandung gula untuk meningkatkan produksi air liur dan memberi efek pembersihan.
    • Mengurangi kebiasaan mengonsumsi minuman bersoda secara berlebihan, karena minuman bersoda akan menimbulkan pelemahan pada email  dan gigi mudah berlubang.
    • Hindari kebiasaan bayi atau balita tidur dengan botol yang berisi susu atau minuman manis lainnya karena gula akan menempel dan merusak gigi.
    • Mengurangi konsumsi makanan manis dan lengket seperti permen, coklat, es krim.


    Adakah yang perlu diperhatikan pada pemilihan sikat gigi?
    Pilihlah sikat gigi dengan bulu yang lembut karena efektif untuk membersihkan lekukan dan daerah yang sulit dijangkau. Pemakaian sikat dengan bulu yang keras dapat menyebabkan gusi terangkat, terbukanya daerah akar gigi yang pada akhirnya menyebabkan gigi sensitif.

    Ujung sikat gigi haruslah kecil dan bila perlu memakai sikat gigi anak, supaya gigi-gigi yang berada di bagian belakang dapat dibersihkan dengan baik. Jangan lupa mengganti sikat gigi apabila bulu sikatnya mulai mekar atau menyebar. Umumnya diganti setelah 3 bulan pemakaian. Apabila dalam seminggu sampai sebulan, sikat gigi sudah rusak, berarti terdapat kesalahan cara menyikat gigi di mana bulu sikat terlalu kuat menekan gigi.

    Apa pula yang perlu diperhatikan saat memilih pasta gigi?
    Saat memilih pasta gigi, pilihlah pasta gigi yang mengandung fluoride dan kalsium. Penggunaan pasta gigi yang mengandung fluor dan kalsium dapat menurunkan tingkat terjadinya karies.

    Selain sebagai pembersih, pasta gigi juga dapat memperbaiki kerusakan gigi dalam batas-batas tertentu dengan cara mengganti mineral-mineral gigi yang hilang akibat erosi dari asam yang terbentuk dari plak.


    BIODATA



    Nama:
    Edward Daniel

    Tempat/ tanggal lahir:
    Surabaya, 16 Oktober 1976

    Pendidikan:
    Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Trisakti

    Pengalaman kerja :
    2002-sekarang : Praktek pribadi

    2002-2005: Bekerja di Yayasan Sinar Pelangi (yayasan sosial untuk anak cacat) di Bekasi

    Mengatasi Kebiasaan Buruk Anak

    Written By Unknown on Monday, September 10, 2012 | 6:16 AM

    Mengapa buah hatiku berbohong? Mengapa buah hatiku mengambil barang milik orang lain tanpa izin? Bunda pun panik, apa yang harus dilakukan? 

    Foto: babybulletblog.com
     TAHUKAH Anda, ada banyak alasan seorang anak melakukan kebiasaan buruk seperti berbohong bahkan mencuri. Perlu kesabaran untuk menggali apa yang melatar belakangi tindakan mereka. Perlu juga kebesaran hati orangtua untuk mengakui kesalahan, jika memang ada penerapan pola asuh yang tidak benar. Tapi yang terpenting, jangan pernah memberi labeling pada anak.

    Untuk membahas masalah ini dan juga untuk mengetahui kapan Bunda perlu bantuan profesional, Sang Buah Hati melakukan wawancara dengan psikolg Titi Natalia. Berikut kutipan wawancaranya.  


    Mengapa anak berbohong? 
    Akar permasalahan dari berbohong dan mencuri adalah  kejujuran. Nah, kejujuran tidak bisa tumbuh dengan sendirinya, tapi harus ditumbuhkan sejak dini. Paling nyata lewat teladan yang diberikan orangtua. Hati-hati kebohongan kecil bisa diterima salah oleh anak. Misalnya, saat ada telepon yang menanyakan keberadaan Bunda, kemudian Bunda minta tolong untuk mengatakan, “Tolong ya, bilang Bunda tidak ada di rumah.” Nah, kelihatannya memang sepele, tapi akan menjadi role model bagi anak. 

    Bagaimana dengan mengambil barang milik orang lain?Mencuri atau mengambil milik orang lain merupakan salah satu tindakan yang juga berpangkal pada kejujuran. Lagi-lagi orangtua harus menjadi teladan. Ajari anak untuk menghargai milik orang lain.Mau pinjam barang milik anggota keluarga, harus minta izin terlebih dahulu. Ayah dan Ibu pun harus melakukan hal yang sama jika ingin melihat aau meminjam barang milik anak. Yang perlu dipahami, jangan-jangan buah hati belum memahami konsep hak milik orang lain. Biasanya, pemahaman hak milik orang lain baru melekat setelah mereka duduk di sekolah dasar. Jika sudah usia SD masih melakukan hal yang sama, baru bisa menjadi masalah.  

    Apa yang harus dilakukan orangtua?Hal utama yang harus diperhatikan orangtua, ialah jangan langsung marah. Orangtua harus bisa menenangkan diri, memberi reaksi yang tepat dengan menelusuri, mengapa anak melakukan hal tersebut. Jangan tuntut anak untuk menjawab langsung, karena cara itu bisa memojokkan, hingga memunculkan sifat defensif. Jika itu terjadi, bisa jadi justru akan muncul kebohongan baru. 
    Telusuri sebabnya dengan komunikasi yang baik. Misalnya, “Ini barang siapa yang ada di tasmu? Sudah izin yang punya belum?” Jika belum telusuri lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak menuduh dan bernada marah. Intinya, jangan sampai anak merasa dihakimi, meski dia tahu dia salah. 
    Setelah diketahui faktor permasalahannya, baru dicari solusi. Kalau kurang perhatian beri perhatian, kalau tergoda ingin memiliki suatu barang tapi tidak berani bilang pada orangtua, maka orangtua harus mengoreksi diri, perbaiki komunikasi. Satu hal lagi yang paling penting, jangan pernah memberi labeling pada anak. Perkataan, “Kamu pembohong, kamu mencuri,” bisa sangat melukai harga diri anak, dan dampaknya justru tidak membantu tapi memperparah kondisi.  

    Penyebab perilaku seperti itu, umumnya bisa apa saja? 
    Sangat banyak. Itu sebabnya orangtua harus tahu apa faktor penyebabnya. Ada karena pola asuh yang salah, misalnya melihat orangtua pemabuk. Adak arena problem psikologis, merasa tidak diperhatikan hingga anak melakukan sesuatu supaya mendapat perhatian. Ada juga anak mencontoh figur tertentu yang dikagumi. Banyak juga  ketidak jujuran merupakan sikap unjuk rasa atau berontak yang sengaja dilakukan. Misal, orangtua kurang mempersiapkan saat akan hadir adik baru, hingga sang kakak merasa tidak nyaman. Faktor-faktor seperti ini termasuk dalam stres internal, depresi anak. Bisa juga karena sesuatu hal merasa marah pada orangtua.  Penyebab lain, tidak tertutup kemungkinan anak tidak tahan terhadap godaan. Setiap individu itu berbeda ketahanannya.  

    Apa yang penting diperhatikan oleh orangtua? 
    Orangtua harus menciptakan kebersamaan. Bukan hanya perhatian dengan kata-kata, tapi yang lebih penting keterlibatan secara emosi, sehingga anak tahu ke mana dia harus datang dan berbicara jika mengalami masalah. Selain itu, orangtua perlu memberi teladan, dan tetap perlu melakukan pemantauan.  

    Kapan orangtua harus memutuskan anaknya membutuhkan bantuan profesional? 
    Begini, di sekolah atau pun di rumah, seringkali ada kejadian seperti itu. Masih bisa dikatakan wajar jika hanya dilakukan sesekali dan sang anak masih di bawah usia 10 tahun. Tapi kalau sudah lebih dari 10 tahun dan masih terus melakukan, sudah saatnya orangtua membutuhkan bantuan profesional, karena sudah ada indikasi gangguan emosional. 
    Namun, faktor usia tidak mutlak berlaku. Andai, buah hati baru berusia 7 tahun tapi sering berbohong bahkan mencuri dan dilakukan berulang-ulang, meski orangtua sudah melakukan berbagai upaya, maka saat itu sudah dibutuhkan bantuan profesional. Apa pun yang terjadi, sekali lagi orangtua harus menangani dengan kepala dingin, jangan emosional, dan yang terpenting jangan memberikan labeling. 


    Nama:Titi Prantini Natalia Tempat/Tanggal Lahir:Jakarta, 4 Desember 1965 Pendidikan terakhir:
    • S2 – Magister Profesi Psikologi Klinis Anak, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia (2003)
    • S1 – Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1994)
    Aktivitas hingga saat ini:
    • Dosen pada Program Studi Magister Psikologi Universitas Tarumanagara, Jakarta
    • Dosen pada Sekolah Tinggi Teologia “Amanat Penuaian Terakhir“ , Jakarta Praktisi psikologi klinis anak
    • Melakukan asesmen psikologi untuk keperluan pendidikan di berbagai sekolah Menjadi narasumber artikel psikologi di berbagai media cetak (Nakita, Mahkota, Children Magazine, Men’s Health, dll) dan elektronik ( beberapa stasiun radio & televisi)
     
    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
    Copyright © 2011. Belajar di Mall - All Rights Reserved
    Template Modify by Creating Website
    Proudly powered by Blogger