Powered by Blogger.

Latest Post

Showing posts with label Anak. Show all posts
Showing posts with label Anak. Show all posts

Jangan Khawatir, Juling pada Anak bisa Diatasi

Written By Unknown on Saturday, February 16, 2013 | 4:45 AM


Mata juling bisa menimpa siapa saja, termasuk buah hati tercinta. Segera konsultasikan ke dokter agar bisa diatasi sedini mungkin.

SARAH dan Budiman merasakan kepedihan, ketika  bagian hitam mata anak pertama mereka Taufan Savana, 3 tahun  terlihat tidak seimbang. Yang sebelah kiri terlihat normal, namun sebelah kanan cenderung ke bawah dan agak ke dalam (pangkal hidung). 

Ketidak seimbangan itu terlihat kian parah seiring pertambahan usia. Ketika Taufan berusia 3.5 tahun, Sarah dan Budiman semakin yakin ada kelainan pada mata putranya. Mereka pun membawa ke dokter mata dan akhirnya Taufan divonis menderita mata malas. 

Sejak saat itu, Taufan menjalani terapi untuk menyeimbangkan kemampuan kedua matanya. Tidak mudah membujuk Taufan untuk menjalani terapi. Pasalnya, sebelah matanya harus ditutup agar mata kanannya yang lemah bisa dipaksa bekerja, sampai memiliki kemampuan yang sama dengan sebelah kiri. “Butuh kesabaran, tapi kami lega karena sudah mengetahui penyebabnya. Sekarang tinggal menjalani terapi,” papar Sarah.

Penyebab Mata Juling
Apa sebenarnya penyebab mata juling? Dr Gusti G Suardana, ophthalmologist dari Jakarta Eye Center, menjelaskan bahwa mata juling merupakan kondisi di mana kedudukan mata sedemikian rupa, sehingga bola mata yang satu bisa tertuju pada satu objek dengan benar, namun mata lainnya mengalami penyimpangan, bisa ke dalam, ke luar, ke bawah, atau ke atas.

Sampai sekarang, penyebab mata juling belum bisa diketahui secara pasti. Meski demikian, faktor genetik diperkirakan ikut berperan. “Jadi, jika ada anggota yang menderita mata juling, maka kemungkinan besar bisa menurun generasi berikut,” terang Dr Gusti.
Meski faktor genetik ikut berperan, namun ada beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai karena bisa meningkatkan risiko, antara lain kelahiran prematur. Menurut Dr Gusti, data statistik menunjukkan kecenderungan tersebut.

Mata juling juga terkait kelainan hipermopia, yaitu mata plus pada anak. Anak yang menderita mata plus dengan angka  lumayan besar, biasanya punya kecenderungan bola mata masuk ke dalam. Tetapi, kecenderungan itu akan hilang bila sudah menggunakan kacamata. Trauma karena pernah kecelakaan dan penderita tumor otak juga bisa menyebabkan mata juling. Biasanya disebabkan karena penglihatan pada satu mata menjadi buruk. “Dalam kasus seperti itu, bisa jadi julingnya tidak permanen, hanya muncul saat kondisinya lelah atau sedang sakit.”

Juling bisa juga terjadi karena ketidakseimbangan pertumbuhan kemampuan mata kanan dan kiri, seperti kasus yang dialami Taufan Savana . Kondisi seperti itu biasa disebut dengan istilah mata malas. Artinya sebelah mata tidak bisa berkembang atau berfungsi maksimal. 

Karena itu, harus dilakukan terapi rutin dengan cara menutup mata yang normal, memaksa mata yang lemah untuk terus bekerja, hingga bisa mencapai kemampuan yang sama dengan mata sebelahnya.
Dr Gusti juga menyinggung kemungkinan terjadi juling palsu yang sebenarnya tidak berbahaya dan bisa sembuh dengan sendirinya, seiring dengan pertambahan usia. 

Juling palsu biasanya terlihat pada ras Mongoloid, karena bentuk wajah belum sempurna atau bisa juga karena faktor batang hidung lebih lebar. Karena itu, seiring dengan kian sempurnanya wajah, juling palsu itu akan hilang dengan sendirinya. “Saat mata makin menjauh, maka kesan juling akan hilang. Ini hanya karena pengaruh bentuk muka dan kelopak mata,” jelasnya.

Penanganan
Jika menemui kasus mata juling pada anak, maka langkah pertama yang harus dilakukan tentu memeriksakan ke dokter mata. Dokter akan memeriksa dan kemudian melakukan koreksi. Langkah-langkahnya bisa saja dengan kewajiban menggunakan kacamata plus, minus sampai tindakan lanjut berubah bedah yang biasanya dilakukan setelah anak memasuki usia satu tahun.

Satu hal yang harus diingat, papar Dr Gusti, pembedahan tidak menjamin selamanya sembuh atau mata tidak akan kembali juling. Namun, pembedahan dipastikan bisa membantu pengontrolan karena memudahkan penyatuan bayangan mata kiri dan kanan.  

“Dokter tidak akan bisa menjamin 100% sembuh. Banyak hal yang masih misteri. Misalnya, mengapa orang yang mata sebelahnya tidak bisa melihat tapi tidak juling, atau ada juga mata yang satu tidak bisa melihat dan menjadi juling. Jadi, yang terpenting adalah melakukan pengontrolan,” tandasnya.

Foto: buzzle.com

Tips:
1. Periksanakan mata bayi sedini mungkin pada usia 6 bulan ke atas, untuk melihat kedudukan bola matanya bagus atau tidak? Apakah menderita juling palsu atau atau memang ada kelainan.

2. Pemeriksaan sedini mungkin akan sangat membantu proses koreksi yang bisa dilakukan. Dokter bisa segera melakukan intervensi supaya penglihatan seimbang kiri dan kanan.

3.  Saat terjadi masalah, dokter juga dapat melakukan koreksi sesuai kasus. Jika memang harus dibedah, bisa segera dilakukan pada usia satu tahun ke atas.

Tips Memilih Mainan Buah Hati

Written By Unknown on Sunday, February 10, 2013 | 5:25 AM

MEMILIH mainan untuk sang buah hati tidaklah sulit. Ribuan bahkan mungkin jutaan produk membanjir di pasaran. Masalahnya, bagaimana cara memilih mainan yang bermanfaat dan aman untuk buah hati? Berikut beberapa tips memilih mainan yang aman bagi kesehatan dan keselamatan buah hati, disarikan dari berbagai sumber, di antaranya  bestbabytoys.typepad.com.

1. Beli mainan sesuai usia
Biasakan untuk selalu membaca label yang tertera di mainan. Pilih mainan yang sesuai dengan usia buah hati. Produsen yang baik biasanya sudah mempertimbangkan ukuran dan bahan yang digunakan untuk membuat mainan. Anak di bawah lima tahun cenderung memasukkan semua barang ke dalam mulut.

2. Kualitas
Harga yang mahal memang belum tentu menjadi jaminan kualitas barang. Namun, pada umumnya membayar sedikit lebih mahal akan mendapat produk yang lebih baik.

3. Bahan yang digunakan
Banyak isu mainan yang mengandung bahan berbahaya. Sekali lagi biasakan membaca label. Hindari mainan yang menggunakan cat timbal dan hindari mainan yang menggunakan phthalates. Rajinlah browsing untuk mengetahui bahan-bahan yang dilarang dalam pembuatan mainan, dan jenis mainan apa saja yang masuk daftar dilarang. Beberapa negara memiliki lembaga perlindungan konsumen, di Amerika dikenal dengan nama The US Consumer Product Safety Commission (CPSC). Cek situs lembaga-lembaga tersebut, karena biasanya memuat peringatan bahan berbahaya dan mainan-mainan yang dilarang beredar.

 4. Periksa material/fisik mainan
Meski sudah ada petunjuk di label, tidak ada salahnya lebih teliti. Periksa apakah ada bagian-bagian yang bisa terlepas dan ukurannya membahayakan anak-anak? Jika dari bahan kayu, periksalah apakah permukaannya, apakah memungkinkan ada serpihan yang terlepas? Dsb.

5. Jauhi Mainan Tua
Meski memiliki nilai sentimental karena diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sebaiknya jangan diberikan pada usia balita. Kita tidak pernah tahu apakah bahan yang digunakan aman atau apakah ada hal lain yang bisa membahayakan kesehatan dan keselamatan.

Foto:  www.cdc.gov

Diabetes pada Anak Dipengaruhi Pola Makan Ibu Hamil

Written By Unknown on Saturday, February 9, 2013 | 12:08 AM

HATI-hati bunda, jagalah pola makan selama kehamilan. Hamil bukan berarti bisa makan sebanyak apa pun dengan alasan untuk asupan dua orang. Pengontrolan kenaikkan berat badan pada ibu hamil perlu dilakukan agar ibu dan bayi tetap sehat. Penelitian terbaru menyebutkan, pola makan ibu selama hamil berkorelasi dengan diabetes militus pada anak.

Meski demikian, jangan melakukan sembarangan diet jika tidak ingin menyesal kemudian hari. Berbagai penelitian menyebutkan, kekurangan gizi saat kehamilan bisa mempengaruhi perkembangan janin. Itu berarti bisa menghambat pertumbuhan organ tubuh dan juga perkembangan lain yang membutuhkan asupan gizi. Pada ibu hamil, kekurangan gizi bisa menyebabkan banyak keluhan, mulai dari cepat lelah, kram karena kekurangan kalsium, sembelit karena kekurangan serat, dan masih banyak lagi.

Peneliti dari Universitas Harvard pernah merilis hubungan antara pola makan dan kesehatan janin. Ibu yang memiliki pola makan seimbang, 95% melahirkan bayi yang sehat. Sedangkan ibu yang senang mengkonsumsi makanan kurang bergizi selama hamil, hanya 8% bayi yang dilahirkan sehat, dan 65% lahir prematur, fungsi tubuh belum sempurna, cacat, bahkan banyak yang meninggal sebelum dilahirkan.

Pola makan berlebihan pada ibu hamil juga bisa berdampak buruk bagi buah hati. Penelitian yang dilakukan di Complutense University of Madrid, Spanyol dan sudah diterbitkan di European Journal of Clinical Nutrition menunjukan korelasi diabetes militus pada anak dengan pola makan tidak sehat yang dilakukan ibu semasa kehamilan.

Itu sebabnya, diet sehat sangat diperlukan untuk menghindari kurang gizi dan juga peningkatan insulin dan glukosa pada anak dalam kandungan. Peningkatan itu otomatis akan melipat gandakan risiko diabetes. “Jika tidak ingin berdampak buruk pada janin, sangat penting bagi ibu hamil untuk melaksanakan pola makan seimbang,” papar .Francisco J Sanchez Muniz, salah satu peneliti dari University of Madrid.

Polusi Tingkatkan Risiko Autis pada Anak

APA sebenarnya penyebab autisme? Sampai sekarang belum ditemukan penyebab pasti austisme. Namun, berbagai penelitian setidaknya berhasil menjawab, mengapa jumlah anak yang menderita autisme terus meningkat dan faktor apa yang bisa meningkatkan risiko autisme.
Para peneliti di University of Southern California, Los Angeles, AS menemukan hubungan antara autisme dan nitrogen dioksida yang terdapat dalam emisi mobil, truk, dan kendaraan lainnya. Penemuan penelitian yang dipublikasikan di Archives of General Psychiatry itu sejalan dengan studi sebelumnya yang menghubungkan antara risiko autisme dengan anak-anak jalanan.

Tim riset yang dipimpin asisten profesor Keck School of Medicine of the University of Southern California, Heather Volk itu  meneliti tingkat kesehatan anak yang tempat tinggalnya berdekatan dengan jalan raya. Sebelumnya, polusi udara yang tinggi memang telah diketahui dapat berpengaruh terhadap perkembangan otak, tetapi para peneliti belum mengetahui seberapa besar risikonya. Hasil penelitian yang dipublikasikan di Archives of General Psychiatry menggambarkan lebih detail tentang pengaruh polusi pada otak dan khususnya peningkatan risiko autisme.

Jumlah anak yang menderita autisme di Amerika Serikat meningkat tajam dengan rasio satu berbanding 88 kelahiran. Nauiknya jumlah penderita autisme memicu berbagai langkah penelitian, di antaranya yang dilakukan oleh Volk dan timnya.

Dalam riset tersebut para peneliti mengamati 279 anak dengan penyakit autisme dan 245 amak yang tidak menderita autisme. Para peneliti menggunakan data tempat tinggal selama masa kehamilan ibu dan awal pertumbuhan anak dan volume lalu lintas, emisi kendaraan, araa angin, dan faktor-faktor lain yang mencetuskan polusi.

Hasilnya, anak yang lebih seirng terkena paparan polusi memiliki risiko lebih tinggi dua  kali lipat untuk menderita autisme. Nah ayah bunda, penelitian ini bisa dijadikan acuan untuk menjaga kesehatan janin dan anak, terutama di awal pertumbuhan.

Foto:  http://www.wrongplanet.net

Waspadai Demam di Musim Penghujan

Written By Unknown on Monday, January 14, 2013 | 8:10 PM



Musim penghujan yang lembab, memunculkan beberapa penyakit khas. Sebaiknya bunda mewaspadai demam di musim penghujan yang menyerang buah hati.

BEBERAPA penyakit terkait infeksi kerap menyerang saat musim penghujan tiba. dr.Ari F Syam, praktisi dan staf pengajar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI RSCM) mengingatkan agar orangtua mewaspadai demam tinggi yang terjadi pada musim penghujan.

Jika pada hari ke-3 masih tetap demam, disarankan ntuk melakukan pemeriksaan darah perier lengkap, guna melihat hemokonsentrasi (dari Hb atau Ht), sel darah putih dan kadar trombosit. Namun, jika demam tinggi disertai denga mual, muntah, dan secara umum kondisi anak memburuk hingga sulit bangun dari tempat tidur, tidak perlu menunggu sampai hari ketiga. “Segera bawa ke rumah sakit untuk observasi dan rawat inap,” tegasnya.

Kewaspadaan orangtua juga disarankan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE. Diingatkan juga supaya orangtua tidak bosan mengingatkan dan  membiasakan anak untuk hidup bersih dengan cara cuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar. Juga menjaga kebersihan lingkungan termasuk dengan cara menghindari menumpuk sampah.

Terkait musim penghujan Tjandra Yoga memaparkan beberapa penyakit yang perlu diwaspadai.
1. Diare
Diare erat kaitannya dengan kebersihan individu (personal hygiene). Selain itu juga berkaitan dengan perubahan musim. Hujan dan banjir akan mencemari air bersih sehingga ketersediaannya menjadi sangat terbatas.
2. Deman berdarah
Sering kali pada musim hujan  banyak genangan air dan sampah yang dapat memicu berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti penyebab deman berdarah. Untuk itu masyarakat dihrapkan  berpartisipasi aktif melalui gerakan 3 M, yaitu mengubur kaleng-kaleng bekas, menguras tempat penampungan air secara teratur dan menutup tempat penyimpanan air dengan rapat.
3. Leptospirosis
Penyakit ini termasuk salah satu  jenis zoonosis yang disebabkan oleh bakteri leptospira dan ditularkan melalui hewan. Di Indonesia, hewan yang dapat menularkan penyakit tersebut adalah tikus, melalui kotoran air kencingnya. Seseorang yang ada luka, kemudian bermain/terendam air banjir yang sudah tercampur dengan kotoran/kencing tikus yang mengandung bakteri lepstopira, maka orang tersebut potensi terinfeksi .
4. ISPA
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), yang disebabkan oleh bakteri, virus dan berbagai mikroba lainnya kerap menjadi langganan di musim penghujan. Gejala utama dari penyakit tersebut bisa berupa batuk, demam, terkadang disertai sesak napas dan nyeri dada.
5. Penyakit kulit
Penyakit kulit  karena infeksi dan alergi juga sering muncul. Faktor kebersihan dan rentannya penularran di tempat berkumpulnya orang khususnya di pengungsian perlu diperhatikan.
6. Deman Tifoid
Demam tifoid yang menyerang saluran cerna perlu pula diwaspadai. Faktor kebersihan makanan yang disantap memegang peranan penting.
Selain enam penyakit yang umum berjangkit di musim penghujan, banyak kasus perburukan penyakit kronik yang memang sudah diderita. Penyebabnya adalah penurunan daya tahan tubuh akibat musim penghujan berkepanjangan dan banjir. Nah ayah bunda,  dengan mengetahui penyebab atau actor pencetusnya, kita semua bisa lebih waspada.

Foto:  kidsvancouver.com

Tips agar tetap sehat selama musim hujan

1. Tips mengantisipasi penyakit leptospirosis adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar dan hindari bermain air pada saat banjir. Jika kulit sedang terluka, gunakan pelindung misalnya sepatu boot.

2. Tangani penyakit ISPA dengan cara istirahat yang cukup, pengobatan simtomatis sesuai gejala, meningkatkan daya tahan tubuh; menutup mulut ketika batuk dan tidak meludah sembarangan agar orang di sekitar tidak tertular oleh penyakit tersebut. Salah satu tempat yang dapat menimbulkan terjangkitnya penyakit ISPA adalah pengungsian, karena disana berkumpul banyak orang.

3. Tutuplah makanan. Penting dilakukan karena makanan yang terpapar udara terbuka lebih dari 8 jam berpotensi tercemar bibit penyakit.
4. Menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), makan yang baik dan bersih, istirahat yang cukup dan senantiasa melakukan cuci tangan pakai sabun (CTPS).

5. Tindakan CTPS yang harus diperhatikan adalah sebelum makan; sebelum mengolah makanan; setelah buang air besar (BAB), setelah menceboki anak, dan setelah memegang benda di lingkungan yang kotor serta setelah memegang hewan.

6. Pahami beberapa budaya hidup sehat yang membuat daya tahan tubuh tetap baik. Di antaranya istirahat cukup, makan teratur, banyak menkonsumsi sayur dan buah2an, tidak merokok, olah raga teratur, minum vitamin dan mineral jika dibutuhkan.

7. Untuk masalah memilih makanan dan minuman di luar rumah juga harus memperhatikan kualitas dan kebersihan. Selain itu diusahakan agar makanan yang dikonsumsi tetap dalam keadaan hangat.

8. Pasien dengan ISPA biasanya akan mengeluh batuk, pilek, dan bersin. Rata-rata juga disertai demam dan badan terasa pegal. Meningat penularan ISPA dari droplet ,maka dianjurkan menggunakan masker/menutup mulut bagi yang sedang batuk dan bersin.

Bayi & Anak pun Bisa Keputihan

Written By Unknown on Saturday, January 12, 2013 | 9:01 AM


Keputihan bisa menyerang segala usia. Jika bayi, balita, atau anak Anda tiba-tiba keputihan, jangan panik. Pahami penyebab dan gejalanya.

SI kecil keputihan? Kok bisa? Jangan panik dulu, karena keputihan memang tidak mengenal usia. Bisa menyerang bayi, balita, anak-anak hingga perempuan dewasa. Penyebabnya bermacam-macam pula, mulai dari jamur sampai indikasi penyakit yang lebih parah. Bisa berbahaya, bisa juga tidak. 

Felicia, 32 tahun terkejut ketika mendapati celana dalam Phoebi, 1 tahun berbercak mirip keputihan. Panik, sore itu juga dia membawa buah hatinya ke dokter. Setelah itu, Felicia baru bisa bernapas lega. Dokter yang biasa menangani anaknya, mengatakan apa yang terjadi merupakan proses normal yang bisa terjadi pada anak-anak bahkan bayi. Keputihan yang dialami Phoebi bukan karena penyakit, tetapi merupakan bagian dari proses perkembangan alat kelamin yang belum sempurna.

Tindakan Felicia membawa Phoebi ke dokter tidaklah salah. Lebih baik berhati-hati dari pada salah melangkah. Pada dasarnya, keputihan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu keputihan fisiologi (normal) misalnya karena perkembangan alat kelamin dan keputihan patalogis. 

Jenis kedualah yang perlu diwaspadai, karena bisa disebabkan oleh jamur, alergi, bakteri, parasit, cacing, infeksi, dll. Bahkan ada penyebab ekstrem seperti rasa ingin tahu balita dengan memasukkan benda ke daerah kemaluan, atau pun kemungkinan terjadi pelecehan seksual.

Ciri & Penyebab
Bagaimana cara membedakan jenis keputihan fisiologi dan patalogis? Secara umum dapat dibedakan dari warna, bau, jumlah cairan, dan kekentalan.Keputihan fisiologi biasanya berwarna putih jernih. Sedangkan jenis patalogis bisa putih susu, kuning, kehijauan, cokelat, bahkan kemerahan dan bau. Ciri lainnya, jumlah cairan patalogis cenderung banyak dengan kekentalan bervariasi.

Penyebab keputihan pada bayi, balita, dan anak-anak bisa sangat beragam. Secara spesifik bisa dijelaskan bahwa jamur, bakteri, dan sejenisnya senang tumbuh di tempat lembab. Karena itu, orangtua perlu menjaga agar celana dalam anak tetap kering dan bersih. Gunakan bahan yang menyerap keringat, dan sering-seringlah mengganti. Pada anak-anak, setidaknya dua sampai tiga kali sehari.

Selain kelembaban, orangtua juga perlu mewaspadai kebersihan dan faktor alergi. Kebersihan di sini terkait bagaimana cara membersihkan pantat seusai buang air besar. Untuk bayi, gerakan membersihkan harus dari arah vagina ke pantat, bukan sebaliknya. Ini untuk menghindari kemungkinan penyebaran kuman BAB ke daerah kemaluan. Sebaiknya, saat membersihkan menggunakan air mengalir dan jangan lupa dikeringkan.

Faktor alergi juga perlu diwaspadai karena bisa menjadi pencetus infeksi. Penyebabnya juga beragam, antara lain bisa terjadi karena penggunaan bedak tabur dan juga sabun yang menggunakan pewangi. Saat ini banyak dokter tidak menyarankan penggunaan bedak tabur pada bayi. Andai digunakan, ditekankan untuk hati-hati dan menghindari daerah kemaluan karena bisa memicu alergi bahkan infeksi jika masuk ke daerah kemaluan si kecil. 

Untuk wewangian, bayi dan anak-anak tertentu memiliki sensitivitas tinggi. Jika demikian, disarankan untuk menggunakan sabun tanpa pewangi dengan ph balance. Hindari pula duduk disembarang tempat seperti tanah dan tempat-tempat yang lembab. Keputihan juga bisa dipicu cacing kremi. Perhatikan pula usai berenang agar segera membilas diri dan membersihkan daerah kemaluan anak dengan benar.

Dengan mengetahui penyebab, jenis, dan ciri-ciri keputihan, orangtua bisa lebih memahami, menghindari dan waspada jika menemukan gejala keputihan patalogis pada sang buah hati. Bila terlihat mengarah pada jenis patalogis, segera bawa ke dokter agar infeksi tidak menjalar kemana-mana. Dokter akan melakukan penanganan yang tepat, biasanya akan diberi antibiotik.

Foto: mybabychart.com

Disiplin Kunci Sembuhkan Epilepsi

Written By Unknown on Tuesday, January 8, 2013 | 4:17 AM


ORANG TUA tidak selayaknya berkecil hati karena mendapati anaknya menderita epilepsi. Penyakit yang dikenal sebagai penyakit ayan ini tidak lebih dari penyakit saraf menahun yang bisa menyerang siapa saja dan bisa disembuhkan. 
Jadi, ayah  bunda tidak perlu larut dalam kesedihan. Pengobatan yang teratur akan membuat buah hati tumbuh normal, cerdas, dan mungkin malah akan menjadi orang besar di kelak kemudian hari.
Banyak orang besar di dunia adalah pengidap epilepsi. Sebut saja, ilmuwan besar Isaac Newton dan Alfred Nobel. Mereka adalah pengidap epilepsi. Ada juga pemimpin dunia seperti Raja Makedonia Alexander Agung, Kaisar Romawi Julius Caesar, dan pemimpin Prancis Napoleon Bonaparte.
Penyakit epilepsi berkubang di otak. Seperti kita tahu, otak terdiri dari jutaan sel saraf (neuron) yang bekerja mengordinasikan semua aktivitas tubuh kita termasuk perasaan, penglihatan, berpikir, menggerakkan anggota tubuh.
Nah, pada penderita epilepsi kadang-kadang sinyal tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Epilepsi bisa disebabkan karena kerusakan otak dalam proses kelahiran, luka kepala, stroke, tumor otak, dan alkohol. Kadang-kadang, epilepsi juga karena genetika, meskipun penyakit ini bukan tergolong penyakit keturunan.
Perhatikan obat
Orangtua perlu mengingat, epilepsi bisa disembuhkan. Pengobatan jelas jalan terbaik untuk menyembuhkan penyakit ini. Mengonsumsi obat secara teratur dan disiplin melakukannya adalah kunci keberhasilan penyembuhan epilepsi.
Masalahnya, pengobatan epilepsi bisa berlangsung lama bahkan sampai hiungan tahun. Akibatnya,  orang seringkali  lalai mengonsumsi obat. Ini tidak boleh terjadi. Kelalaian atau ketidakpatuhan terhadap aturan mengonsumsi obat menjadi salah satu sebab pengobatan tidak berjalan maksimal.
"Karena itu peranan orang tua sangat penting bagi anak yang mengidap epilepsi. Di sini, orang tua harus memastikan bahwa si anak terus mengonsumsi obat secara benar,” ujar dr Irawan Mangunatmadja, SpA (K) dari Divisi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM dalam temu media tentang epilepsi, beberapa waktu lalu.
Menurut dia, ketidakpatuhan terhadap pengobatan epilepsi dapat memperparah penyakit. Kepatuhan dalam pengobatan berguna untuk untuk mengontrol serangan epilepsi dan pada akhirnya akan sembuh.Karena itu, jangan benam masa depan anak Anda hanya karena malas menyentuh obat. **
Foto:  dog4deeds.com
 

Kenali dan Atasi Kolik pada Buah Hati

Written By Unknown on Saturday, January 5, 2013 | 10:46 PM



 BAYI Bunda sering menangis hingga lebih dari dua jam saat malam tiba atau 15 menit setelah menyusui? Ditambah wajah memerah, tangan mengepal disertai kaki ditarik seakan menunjukkan sikap kesakitan di bagian perut? Jika jawabannya ya, bisa jadi buah hati  Anda mengalami kolik atau rasa sakit dan tidak nyaman di bagian perut. Orang awam menyebutnya perut kembung.

Menurut dr IGA Nyoman SpA dari RS Bunda, Jakarta Pusat, kolik adalah suatu gejala kompleks pada bayi yang ditandai dengan menangis kuat dan keras, nyeri perut dan rewel. Kolik seringkali mulai timbul dalam waktu 10 hari hingga 3 minggu setelah bayi lahir. Biasanya kondisi iniberlangsung sampai bayi berusia 3-4 bulan dan akan menghilang dengan sendirinya," terangnya.

Tangisan bayi karena kolik berbeda dengan tangisan biasa. Ini dapat dibedakan dengan melihat ekspresi ketika menangis. Saat kolik terjadi, biasanya wajah buah hati terlihat kesal dan sedih. Kolik pada dasarnya tidak dikategorikan sebagai penyakit, namun pada beberapa kasus merupakan gejala penyakit tertentu, misalnya hernia.
Penyebab Kolik 

Sebenarnya apa penyebab kolik? Sampai sekarang belum dapat diketahui secara pasti mengapa bayi bisa mengalami hal itu. Beberapa ahli mengungkapkan bahwa kolik disebabkan bakteri yang mengganggu pencernaan akibat penyumbatan yang mengakibatkan nyeri di perut (kolik).
Ahli lain mengatakan, kemungkinan karena terlalu banyak udara yang dihirup, sementara bayi belum mampu bersendawa. Akibatnya terjadipengumpulan gas (flatus) yang menjadikan perut bayi kembung.  

Kolik juga bisa terjadi akibat ketidakmampuan bayi mengontrol emosi setelah terlahir dan berada di luar rahim sang bunda. Maklumlah, selama berada dalam perut bunda, bayi terbebas dari hawa dingin. Ketika lahir, ia merasa kehangatan di dalam balutan perut ibu hilang. Tapi jangan khawatir, jika itu penyebabnya, buah hati bunda akan segera menyesuaikan dengan kondisi tersebut.

Opini lain menyebutkan bahwa kolik disebabkan alergi usus terhadap susu dan refluks esofageal, yaitu keadaan yang terjadi jika kerongkongan mengalami iritasi karena asam dari lambung mengalir kembali ke kerongkongan. Bahkan ada yang menyebutkan kolik dipengaruhi makanan yang dikonsumsi ibu si pemberi ASI.

Seperti dikutip dari website Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), www.idai.or.id, sebuah penelitian menunjukkan bahwa sekitar sepertiga kasus kolik pada bayi disebabkan alergi terhadap protein susu sapi. Senyawa ini dapat ditemukan pada ASI dari ibu yang mengonsumsi susu sapi. Jika itu penyebabnya, maka sebaiknya ibu tidak mengonsumsi susu sapi. Bila kemudian kondisi bayi  membaik, maka diet ibu yang bebas susu sapi harus terus dipertahankan selama 3 sampai 4 minggu atau mungkin lebih.

Cara mengatasi
Jika buah hati bunda mengalami kolik, cobalah menenangkan dengan cara paling sederhana, yakni dengan menggendong si bayi dan mengelusnya. Cara lain dengan memijatsebelum tidur. Langkah ini bisamembantu menenangkan dan membantu bayi terlelap.  

Pijatan seperti apa yang bisa diberikan? Cukup dengan mengelus lembut perut bayi, mengikuti pola huruf U terbalik dengan menggunakan minyak telon. Bunda juga bisa menggunakan cara tradisional, menghaluskan bawang merah, kemudian campur dengan minyak telon. Balur seluruh badan hingga ujung kaki dengan ramuan tersebut. Banyak ibu mengatakan, cara ini sangat efektif mengurangi rasa sakit di perut,  karena membantu mengeluarkan gas lewat kentut.

Kunci paling utama saat menghadapi bayi kolik, para bunda jangan panik dan harus tetap sabar mengurus kerewelan sang buah hati. Tapi apabila ibu merasa tidak tenang dantangisan bayi terdengar berlebihan, ada baiknya diperiksakan ke dokter spesialis anak. Bagaimanapun, sistem pencernaan bayi dan fungsi seluruh sel dalam tubuhnya memang belum sempurna.


Antisipasi
Mengutip ucapan ‘lebih baik mencegah daripada mengobati bisa diterapkan di sini. Meski kolik pada bayi tidak bisa dicegah, namun para orangtua bisa menghindari faktor-faktor yang berhubungan dengan kolik. Misalnya mengubah posisi bayi ketika menyusui atau mengganti susu formula (jika terdapat alergi susu sapi) dengan susu kedelai sesuai petunjuk dokter.

 Foto: blog.babyoye.com

Kenali dan Waspadai Penyakit Kawasaki

Written By Unknown on Monday, December 17, 2012 | 6:09 AM


Gejalanya mirip penyakit campak, namun jika terlambat ditangani, akibatnya bisa sangat fatal. Buah hati Anda bisa terkena serangan jantung.

Foto: kidshealth.org
PENYAKIT kawasaki bisa menyerang siapa saja, bahkan buah hati yang baru berusia satu bulan. Gejala awal ditandai dengan panas tinggi, kemudian mata merah, keluar bintik seperti campak. 
Karena belum banyak dokter yang paham tentang penyakit ini, seringkali terlambat ditangani hingga menyerang jantung. Masa penyerangan ke jantung biasanya dimulai di hari kesepuluh. 

 GRACE Octavia Tanus, 13, kini harus membatasi aktivitas sehari-hari. Tidak boleh ada kamus kata lelah, apalagi terjatuh hingga luka. Seba buat Grace, luka sekecil apa pun  bisa berbahaya. Maklum, darah di tubuhnya harus diencerkan dua kali lipat dibanding kondisi normal, agar jantungnya tidak lelah memompa. Kondisi itu terpaksa  dia jalani semenjak dokter memvonis Grace menderita Penyakit Kawasaki pada 2005. Ketika itu, usianya baru 6,5 tahun.

Awalnya, Grace disangka menderita penyakit campak. Badannya panas, mata merah, kemudian muncul bintik-bintik.  Namun, dari hari ke hari kondisinya tidak juga membaik. Panasnya tetap tinggi. Pada hari ke-10 dokter mulai mencurigai Grace terjangkit penyakit Kawasaki, namun belum berani memastikan. Saat itu  penyakit Kawasaki belum banyak dikenal, baik di kalangan medis, apalagi masyarakat awam.

Kedua orangtua Grace, Soeyanny A Tjahya dan Tony Tanus, terus berupaya mencari informasi, termasuk melalui dunia maya (browsing). “Terus terang, saat itu saya mulai curiga, Grace terkena Kawasaki. Gejala-gejalanya sama. Tapi dokter sendiri belum berani memastikan,” papar Soeyanny yang akrab dipanggil Asui.

Setelah semua hasil laboratorium turun, vonis Kawasaki pun dijatuhkan. Grace langsung mendapat infus obat, dengan dosis yang diberikan sesuai berat badan. Karena berat badannya 25 kg, maka Grace harus mendapat infus obat sebanyak 10 botol. Harga satu botol obat sekitar Rp3,5 juta. “Saat itu juga, panasnya langsung turun. Beberapa hari kemudian Grace diperbolehkan pulang.”

Serangan Jantung
Namun, sekitar dua hari setelah pulang ke rumah, Grace mengeluh sakit di bagian perut dan dada. Orangtuanya langsung melarikan ke rumah sakit, dan ternyata jantungnya bengkak. Dokter menyatakan Grace terkena serangan jantung, sebagai dampak keterlambatan penanganan saat mendapat serangan Kawasaki.

Kondisi Grace dengan cepat menyebar di dunia maya. Penyakit langka yang diderita Grace mulai muncul di berbagai surat kabar. Menteri Kesehatan datang untuk mengecek langsung. Dari Departemen kesehatan inilah, Asui dan Tony mendapat nama dr Najib Advani SpA(K) MMed. Paed, satu-satunya ahli Kawasaki di Indonesia.

Dua minggu di rumah sakit, Grace diperbolehkan pulang, tapi harus mengonsumsi obat pengencer darah seumur hidup. Kini, penyempitan pembuluh jantung Grace sudah mencapai 90%. Asui dan Tony terus melakukan konsultasi dengan dokter Najib dan berkomunikasi lewat email dengan dokter-dokter ahli di Amerika dan Jepang, tempat penyakit ini ditemukan.

Karena kondisi jantung Grace sudah parah, Asui dan Tony memutuskan untuk melakukan operasi by pass jantung. Pilihan pelaksanaan jatuh di Jepang, karena hanya negara inilah yang mempunyai pengalaman operasi jantung untuk anak penderita Kawasaki. “Sekarang kami sedang menunggu giliran untuk operasi,” tutur Asui.

Peduli Kawasaki
Satu bulan pertama saat Grace divonis Kawasaki,  Asui mengaku down. Dia terus bertanya-tanya, “Mengapa? Mengapa anak saya?” Apalagi pada 2009, anak tertuanya Brandon Tanus, 13, juga terserang penyakit Kawasaki. Beruntung, Asui dan Tony sudah memahami gejala penyakit ini. Mereka langsung membawa ke dokter Najib, mendapat tindakan cepat dan sekarang sudah dinyatakan sembuh total.

Pada akhirnya, Asui mengambil sisi positif dari cobaan yang menimpa keluarganya. Dia merasa Tuhan menggunakan dia sebagai alat untuk membantu orang lain. “Sejak 2005, saya mendapat banyak telepon dari orangtua yang menanyakan tentang gejala Kawasaki. Dan ternyata jumlah penderitanya kian lama kian banyak. Bukan hanya menyerang ras Mongoloid seperti yang semula disangka, tapi juga menyerang ras di luar Mongoloid” paparnya.

Akhirnya pada 2008, didukung Dokter Najib, dan Rumah Sakit Omni Alam Sutera Tangerang yang kini memiliki fasilitas Kawasaki Center, Asui mendirikan Perkumpulan Orangtua Penderita Penyakit Kawasaki Indonesia.

Lewat perkumpulan  inilah, Asui ingin menyebarkan informasi agar semua orangtua waspada dan memahami gejala penyakit Kawasaki, sehingga bisa ditangani dengan cepat sebelum berdampak ke jantung. Itu sebabnya, Asui sukarela menyebarkan nomor teleponnya, dan dengan senang hati melayani orangtua yang menelpon karena curiga anaknya menderita Kawasaki. “Kalau gejalanya sudah jelas, saya langsung menyarankan agar dibawa ke dokter Najib atau Kawasaki Center,” ujar Asui yang menjabat sebagai ketua dalam perkumpulan tersebut.

Asui juga ingin menggugah kesadaran pemerintah betapa berbahayanya penyakit  Apalagi di Indonesia jumlah penderitanya terus meningkat. “Saya ingin sekali pemerintah lebih peduli. Ini penyakit mahal. Pengobatannya mahal, apalagi jika harus melakukan by pass jantung seperti Grace. Kami perkirakan biaya yang keluar bisa mencapai Rp1 miliar. Itu sebabnya, pemerintah harus lebih peduli. Jika gejalanya cepat diketahui dan tidak terlambat ditangani, pasien bisa sembuh total. Tidak semua orang mampu membeli obat untuk penyakit ini, apalagi jika harus melakukan operasi jantung,” ujarnya.

Saat ini, Asui dan orangtua lain yang tergabung dalam perkumpulan, mencoba melakukan berbagai cara untuk mengumpulkan dana, jika ada orangtua yang anaknya menderita penyakit Kawasaki dan mengalami kesulitan ekonomi.



Fakta tentang Penyakit Kawasaki
1. Penyakit Kawasaki ditemukan oleh Dr Tomisaku Kawasaki di Jepang tahun 1967.
2. Penyakit ini menyerang anak-anak dari usia 2 bulan hingga 13 tahun (usia pasien tertua yang diketahui di Indonesia).
3. Kawasaki tidak menular, namun hingga sekarang penyebabnya belum diketahui.
4. Jika terlambat ditangani, penyakit Kawasaki akan menyerang jantung.
5. Penanganan yang cepat sangat diperlukan. Rentang waktu 1-7 hari bisa dikatakan masih aman (belum menyerang jantung). Jika tidak segera ditangani pada hari ke-7 hingga 10, masuk kategori rawan, dan di atas 10 hari dikhawatirkan sudah terkena jantung koroner.
6. Telepon Kawasaki Center, RS Omni Alam Sutera, Tangerang: (021) 5312 555, 5312 8555. Nomor telepon Ketua Perkumpulan Orangtua Penderita Penyakit Kawasaki Indonesia Soeyanny Tjahya (Asui): 0816909255.


Gejala Awal
Gejala penyakit Kawasaki tidak selalu sama pada setiap anak. Namun, secara umum gejala yang harus diwaspadai sbb:
1. Panas tinggi hingga bisa mencapai 41 derajat celcius. Meski suhu tubuh berfluktuasi, tapi tidak pernah mencapai suhu normal.
2. Hari kedua mata dan bibir mula memerah.
3. Sekitar hari keempat, muncul bintik merah mirip penyakit campak. Namun meski sudah diberi obat (termasuk antibiotik), panas tidak juga turun.
4. Biasanya di hari ke sepuluh mulai terjdi pengelupasan kulit di tangan dan kaki.
5. Sebelumnya, terkadang muncul pembengkakan di leher mirip penyakit gondong.
6. Muncul lebam di bekas suntikan imunisas BCG.
7. Terkadang anak mengeluhkan nyeri pada persendian

Anak Obesitas Karena Sesar

Written By Unknown on Saturday, December 15, 2012 | 5:08 PM

OPERASI sesar banyak dipilih untuk melahirkan, terutama bagi perempuan yang berisiko tinggi saat melahirkan. Namun, itu bukan berarti tidak ada dampak buat sang bayi.
Penelitian menunjukkan, bayi yang lahir melalui operasi sesar dua kali lebih berisiko mengalami obesitas dibandingkan dengan bayi yang lahir secara normal. Para peneliti dari Boston Children's Hospital di Massachusetts, Amerika Serikat, menemukan hubungan antara masa tubuh, ketebalan kulit dan bagaimana seorang bayi dilahirkan.
Obesitas pada bayi itu akan terjadi ketika bayi itu menginjak usia 3 tahun. Dalam hasil penelitian yang dipublikasikan di Archives of Disease in Childhood itu , peneliti menyatakan bahwa operasi sesar kemungkinan mempengaruhi bakteri yang terdapat di usus yang kemudian mempengaruhi pencernaan makanan.
Hasil studi yang dilakukan terhadap 1.255 pasang ibu dan bayi selama tiga tahun menunjukkan bahwa para ibu yang melahirkan dengan operasi sesar cenderung lebih berat dibanding mereka yang melahirkan secara normal. Namun demikian, studi ini masih perlu diperdalam lagi untuk menghasilan kesimpulan pasti. **

Gejala Autis Bisa Dideteksi Sejak Bayi

Written By Unknown on Thursday, December 13, 2012 | 10:39 AM


Foto: centralx.easterseals.com
 
KEMUNGKINAN sang buah hati menderita autisme, ternyata bisa dideteksi  sejak bayi. Berat badan yang kurang pada bayi  baru lahir, misalnya, bisa menjadi indikator untuk mengetahui potensi autisme.
Hal itu terungkap dari penelitian yang dilakukan oleh tim dari Pusat Pembangunan Otak dan Daya Kognitif di Kolegia Birkbeck, Universitas London. Jurnal Current Biology menulis, tim tersebut menyebutkan salah satu indikator autisme adalah respons otak.
"Gejala-gejalanya dicirikan oleh respons otak berbeda pada bayi yang berpotensi autis dibandingkan dengan bayi lainnya," ujar Direktur Pusat Pembangunan Otak dan Daya Kognitif di Kolegia Birkbeck, Universitas London, Johnson.

Para peneliti mengamati 104 bayi berusia enam hingga sepuluh bulan. Bayi-bayi tersebut diamati hingga berusia tiga tahun. Para peneliti menempatkan sensor pasif pada kulit kepala bayi itu. Perangkat ini mampu mencatat aktivitas otak seiring peralihan wajah bayi setelah dihadapkan langsung dengan yang lainnya.
Hasilnya, seorang bayi yang menderita autisme memiliki pola yang tak biasa ketika merespons kontak mata dengan yang lainnya. Wajah mereka sering berpaling, setelah dihadapkan langsung. Bayi-bayi yang tumbuh bersama saudara lelaki dan perempuan austistik, lebih besar berpotensi menderita autisme.
Namun demkian,masih diperlukan penelitian mendalam untuk memastikan masalah ini. "Penelitian ini tak bisa dikatakan 100 persen akurat," kata Johnson.

Jenis Gangguan Tidur pada Anak

Written By Unknown on Tuesday, December 11, 2012 | 3:22 AM


 AYO  kenali jenis gangguan tidur pada sang buah hati, supaya dapat diketahui tingkat bahaya dan segera dicarikan solusi.

Foto: dream.co.uk
Mengompol
Mengompol disebut juga enuresis.  Ada juga yang disebut enuresis nocturnal, yaitu keadaan tidak dapat  menahan keluarnya air kencing dan terjadi ketika tidur malam hari.
Hal ini biasa  dialami anak-anak yang berusia lebih dari tiga tahun. Ada dua jenis mengompol yang  terjadi dalam tidur nyenyak atau dalam tahap non Rapid Eye  Movement (REM), yaitu enuresis primer dan sekunder atau ketidakmampuan untuk  mengontrol buang air kecil. Enuresis primer bukanlah masalah  serius, juga tidak menimbulkan masalah fisik lainnya. Mengompol adalah hal lazim  terjadi pada anak usia enam hingga 12 tahun, biasanya akan  berhenti dengan sendirinya.
Penyebabnya bisa jadi  turun-temurun, buruknya kapasitas sistem kandung kemih atau karena terjadinya  perhambatan pada pertumbuhan. Apa yang dapat Anda lakukan adalah melatih anak  mengontrol kandung kemih, menghargai mereka ketika ia tidak mengompol dan  kondisikan pula agar dia tidak mengompol dengan menyuruhnya untuk pipis sebelum  tidur.
Sedangkan sekunder enuresis bisa  menjadi masalah serius, cenderung terkait psikologis. Misalnya anak Anda  mengompol setelah malamnya mendengar Anda dan pasangan bertengkar, itu  merupakan pertanda gangguan emosi.

Night  terror
Night terror adalah suatu kondisi  terbangun dari sepertiga awal tidur malam. Biasanya night terror ini

diikuti  dengan teriakan panic, menangis, dan gejala cemas yang  berlebihan. Night terror berlangsung selama 1  sampai 10 menit. Kondisi ini juga disebut Pavor Nocturnus, dan sleep  terror. Night terror kerap dialami oleh  anak usia empat hingga delapan tahun. Mmereka mungkin tidak  menyadari tindakan mereka ini ketika mereka terjaga atau sadar. Anak Anda juga  bisa stres atau trauma dalam situasi ini. Penderita kadang terjaga tetapi mengalami kebingungan dan disorientasi. Pada saat serangan sulit dibangunkan atau ditenangkan.  Namun ketika dia mencapai masa  remaja kebiasaan itu akan menghilang.

Somnambulisme
Somnambulismeadalah suatu keadaan perubahan kesadaran, fenomena tidur-bangun terjadi pada saat bersamaan. Anak tiba-tiba  terbangun di tengah malam, duduk di tempat tidurnya atau beranjak dan berjalan  berpindah tempat. Dia tidak akan menyadari tindakannya, meskipun  tampak sadar dan  berbicara. Sewaktu tidur penderita kadang melakukan aktivitas motorik yang biasa dilakukan seperti berjalan, berpakaian atau pergi ke kamar mandi, berbicara, menjerit, bahkan mengendarai mobil. Akhir kegiatan tersebut kadang penderita terjaga, kemudian sejenak kebingungan dan tertidur kembali. Ia tidak ingat kejadian tersebut. Kendati demikian, Anda harus waspada akan  benda-benda di sekitar rumah yang dapat membahayakannya saat sedang tidur  berjalan.

Nightmare.
Nightmareadalah tidur dengan mimpi yang menakutkan. Akibatnya penderita terbangun dalam keadaan ketakutan. Mereka yang sering mengalami episode nightmare d mempunyai risiko yang lebih besar untuk mengalami gangguan skizofrenia. Namun juga mereka ini adalah orang yang kreatif dan artistik.

Hipersomnia Mudah Tertidur (Hipersomnia)
Gangguan akibat tidur yang berlebihan disebut hipersomnia. Yang termasuk kelompok ini antara lain sleep apnea, narkolepsi, nocturnal myoclonus, OSA, dan sebagainya.

Narkolepsi
Narkolepsimerupakan keinginan tidur yang tidak tertahankan pada siang hari, meski tidur malamnya cukup.Bisa menyerang laki-laki maupun perempuan dewasa dan muda.
Nocturnal myoclonus adalah keadaan dimana terdapat pergerakan periodik dari tungkai ke bawah ketika tidur

Tidur  tertunda
Tidak hanya orang dewasa,  anak-anak juga bisa mengalami tertundanya waktu tidur. Jika orang dewasa bisa  dikarenakan stres, pada anak-anak bisa karena terlambat dari waktu tidur. Hal ini bisa terjadi jika anak  mulai terbiasa tidur di atas jam 12 malam, sehingga mereka pun mengalami  kesulitan bangun di pagi hari, dan jadwal tidur malam mereka akan turut tertunda  panjang. Karena kurang tidur, anak akan  berkinerja buruk di sekolah. Dia akan mengantuk pada  siang hari dan keterlambatan akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.  Dalam rangka meningkatkan pola tidur, nyalakan lampu terang di pagi hari dan  atur jadwal tidur anak dengan baik.

Apnea
Apnea merupakan  jeda  nafas saat tidur. Apnea terjadi ketika saluran nafas tertutup sehingga  tidak ada udara yang mencapai paru-paru. Apnea umum terjadi di kalangan  orang dewasa, tetapi anak-anak pun kerap mengalami kesulitan bernapas karena  saluran udara memblokir mereka. Hal ini menyebabkan anak mendengkur, atau  bernapas melalui mulutnya,  dan dia mungkin merasa  mengantuk di siang hari

Sindrom Kleine-Levin Sindrom
Kleine-Levin atau Kleine-Levin Syndrome disingkat KLS adalah penyakit syaraf yang langka, di mana penderita tidak bisa mengontrol rasa kantuk. Penderita bisa tertidur selama berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bisa berbulan-bulan, tergantung pada berapa lama penyakit itu muncul dan kambuh. Kleine-Levin sindrom ini pertama kali diberi nama dan dilaporkan secara ilmiah oleh Willi Kleine dan Max Levin pada tahun 1925. Sindrom ini pertama kali ditemukan oleh dokter Prancis Pierre Edmé Chauvot de Beauchèmoda  pada tahun 1786. Penderita bisa bangun hanya untuk makan atau pergi ke kamar mandi. Penderita bisa dibangunkan oleh orang lain, tetapi penderita selalu mengeluh merasa capek dan letih. Ketika penderita bangun penderita bertingkah seperti anak kecil karena sebagian memorinya. Banyaknya ingatan yang terhapus tergantung dari seberapa lama penderita tidur. Dan penderita sensitif terhadap suara dan cahaya ketika bangun. Penyakit ini kambuh tanpa peringatan. Sebagian penelitian di Amerika Serikat mempercayai penyebab penyakit KLS adalah mutasi gen atau DNA yang dibawa oleh orangtua penderita. Tetapi penyebab pasti KLS masih belum diketahui.

Insomnia Alergi makanan
Insomnia Alergi makanan adalah gangguan untuk memulai tidur dan mempertahankan kualitas tidur yang disebabkan akibat manifestasi atau respon karena alergi makanan. Angka kejadian insomnia alergi makanan masih belum diketahui pasti, tetapi tampaknya gangguan ini sering dialami terutama pada usia anak di bawah 5 tahun, terutama usia 2 tahun. Manifestasi klinis gangguan insomnia karena alergi makanan, masih belum terungkap jelas. Solusi pengobatannya dengan mengetahui makanan penyebab alergi.


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Belajar di Mall - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger